FORMAT PENELITIAN HADIS-HADIS “MISOGINIS”

I. PENDAHULUAN

Akhir-akhir ini kajian keislaman semakin menarik dan banyak bermunculan seiring dengan kehadiran wacana gender dalam studi Islam. Diskursus tersebut merupakan suatu keharusan karena merupakan tuntutan kemanusiaan atas berbagai kebutuhan kehidupan keseharian-nya. Dalam masalah keagamaan hal yang demikian untuk dapat lebih membumikan pesan-pesan yang ada di dalam dasar idealnya (al-Qur’an dan hadis). Perbedaan gender bukan merupakan suatu masalah yang serius manakala tidak menimbulkan berbagai persoalan seperti ke-senjangan keadilan. Namun, pada kenyataannya adanya perbedaan gender acapkali menyebabkan adanya persoalan ketidakadilan baik di pihak laki-laki sendiri dan bahkan juga kebanyakan terjadi terhadap perempuan.

Dalam hal ini, gender merupakan sebuah persoalan sosial budaya yang tentunya tidak semua orang mampu dengan jernih memahami adanya ketidakadilan gender. Persoalan tersebut akan semakin rumit manakala terkait erat dengan doktrin ajaran agama. Untuk memahami sejauh mana ada tidaknya kesenjangan gender, menurut Mansour Fakih[1] paling tidak dapat dilihat dalam bidang: Marginalisasi perempuan, Subordinasi, Streotipe, Kekerasan dan Beban kerja yang berlebihan.

Piranti-piranti dalam melihat adanya ketidakadilan gender di atas dijadikan pedoman dalam menelaah teks-teks ajaran agama. Tujuan tidak lain adalah untuk kemaslahatan umat manusia atau dalam bahasa al-Syatibi adalah li masalih al-ibad fi daraini.[2] yang dapat terwujud manakala dipenuinya kebutuhan daruri manusia yakni menjaga agama, harta, keturunan, jiwa dan akal. Paradigma tersebut saat ini perlu penyempurnaan karena banyak problem kehidupan kemanusiaan yang lebih urgen termasuk adalah ketidakadilan gender. Persamaan (equality), keadilan, HAM dan menjaga lingkungan hidup sekarang ini merupakan suatu yang qat’i yang harus terwujud bagi kemanusiaan. Adapun sarana untuk mencapai hal tersebut dapat berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.

Dalam berbagai literatur diungkap tentang bagaimana Islam mengentaskan berbagai ketidakadilan terutama jika dikaitkan dengan persoalan kaum perempuan dari penindasan. Adanya pembatasan poligami dan berbagai ajaran Islam lainnya pada masa lalu merupakan suatu hal yang luar biasa dilakukan oleh Islam yang membedakan dengan agama lainnya.[3] Berbagai ajaran tersebut sukses dapat diakses oleh umat Islam berkat adanya penjelasan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Dari sini dapat dinyatakan bahwa Rasulullah saw. merupakan mubayyin atas apa yang terdapat dalam al-Qur’an(expounder of the Qur’an). [4]

Sudah menjadi kesepakatan bahwa hadis merupakan sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an. Peranan hadis adalah sangat besar sekali, karena sebagai penjelas atas hal-hal yang terkandung dalam al-Qur’an dan bahkan lebih dari itu dapat menjadi rujukan utama manakala di dalam al-Qur’an tidak ada ketentuannya. [5] Kajian atas hadis Nabi Muhammad saw. dirasa masih ketinggalan dibandingkan dengan kajian dalam al-Qur’an. Padahal, realitas masyarakat Islam telah berubah dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat sehingga memungkinkan adanya pemahaman yang baru dan lebih membumi.

Tulisan ini akan membahas tentang format penelitian hadis-hadis misoginis. Kajian dilakukan sebagaimana penelitian hadis yang ada dengan memberikan nuansa gender maintreaming berikut langkah-langkah yang dilakukan dan contoh-contohnya.

II. ARTI PENTING PENELITIAN HADIS

Sejarah panjang penghimpunan (pentadwinan) hadis bukan merupakan suatu pelalaian terhadap hadis. [6] Keberadaan hadis telah didudukkan oleh sahabat dengan baik. Mereka dengan sangat hati-hati dalam mengambilnya dalam menetapkan hujjah.[7] Namun, niat baik tersebut tidaklah disambut baik oleh mereka yang ingin merusak Islam dan mereka yang berusaha menjustifikasi dan melegitimasi pemikirannya.[8] Oleh karena itu, muncullah berbagai upaya pemalsuan hadis dan inkar al-sunnah. Fenomena inkar al-sunnah ada di setiap zamannya dengan bentuk yang berbeda-beda. Mereka ini merasa cukup dengan al-Qur’an saja.

Berbagai penjelasan Rasulullah saw. atas al-Qur’an dan berbagai persoalan kehidupan umat Islam lain yang tidak diakomodir oleh al-Qur’an, maka dimuat dalam hadis dan atau sunnah[9] yang sangat berperan dalam kehidupan umat Islam awal. Pijakan umat pada generasi sesudah Rasulullah saw. adalah terletak pada pengganti Rasulullah saw. Keberadaan hadis terus dijaga oleh sahabat dan generasi sesudahnya.

Seiring dengan luasnya kekuasaan Islam sunnah akhirnya meluas ke berbagai daerah dan disepakati. Oleh karena itu, hadis berkembang luas dan ia ada merupakan suatu fakta yang tidak terelakkan dalam sejarah. Mereka ini sangat hafal terhadap apa yang didengar dan dilihat dari anutan mereka. Melalui fenomena ini Fazlur Rahman menganggap berdosa secara historis.[10] Namun, kontroversi yang muncul adalah kapan hadis dibukukan? Ini merupakan perdebatan yang sengit di kalangan orientalis dan pemikir Islam. Dari sisi kesejarahan inilah memunculan pentingnya penelitian hadis.

Sampai di sini, sunnah sudah menjadi opini publik sampai pada abad ke-2 H. sunnah sudah disepakati oleh kebanyakan ulama dan dipresenstasikan sebagai hadis. Hadis adalah verbalisasi sunnah. Oleh karena itu, Fazlur Rahman menganggap upaya reduksi sunnah ke hadis ini telah memasung kreativitas sunnah dan menjerat ulama Islam dalam memasang rumusan yang kaku.

Fazlur Rahman lebih jauh mengungkap kekakuan dalam hal ini membuat mereka akan terjerembab pada vonis yang tidak sedap, yaitu inkar al-sunnah. Inilah yang membedakan dengan kajian terhadap al-Qur’an. Penafsiran seseorang terhadap al-Qur’an bagaimanapun keadaannya baik liberal maupun sangat liberal tidaklah dianggap sebagai sebuah penyelewengan sehingga dijuluki sebagai seorang yang ingkar al-Qur’an.

Kaum muslimin sepakat menerima sunnah dan menisbatkannya kepada Nabi Muhammad saw. Kemudian sunnah tersebut diformulasikan dalam bentuk verbal dan kemudian disebut dengan istilah hadis. Dari sini jelas, bahwa sunnah merupakan proses kreatif yang terjadi terus menerus sedangkan hadis adalah pembakuan secara kaku.

Berbeda dengan pemikiran Fazlur Rahman, Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah artikel yang berjudul “Dari Sunnah ke Hadis atau sebaliknya?” dimuat dalam buku Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1995) mengemukakan sebaliknya. Ia tidak setuju tentang yang pertama kali beredar di kalangan kaum muslimin adalah sunnah. Baginya, yang pertama kali adalah hadis. Tesis ini dibuktikan dengan data historis di mana ada sahabat yang menghafal dan menulis ucapan Nabi Muhammad saw.[11] Dus, sejak awal, hadis memang sudah ada.

Hadis sudah terbukukan dalam berbagai kitab hadis[12] yang jumlahnya banyak dengan ragam metode penulisannya.[13] Dengan berbagai trend besar di dalamnya. Tentu saja, kitab-kitab yang beredar di masyarakat tersebut tidak semuanya bernilai sahih. Masih banyak hadis-hadis yang populer di masyarakat ternyata jika diteliti secara mendalam maka kualitasnya lemah (da’if). Kenyataan tersebut belum menyentuh pada persolan esensial dari sebuah hadis. Karena diskursus penelitian hadis (tahqiq al-hadis) hanya berkutat pada persoalan keabsahan suatu hadis dilihat dari anasirnya. Inilah yang banyak dilakukan ulama terdahulu dan acapkali masih sering dilakukan oleh para pakar sampai saat ini karena tidak samanya paradigma yang digunakan oleh ulama dalam menentukan kualitas hadis.

III. HADIS-HADIS “MISOGINIS”

Istilah hadis sebagaimana diketahui adalah sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah saw. baik ucapan, perbuatan maupun taqrir. Istilah hadis kemudian dikaitkan dengan istilah misoginis.

Istilah “misoginis” yang membenci perempuan masih menimbulkan banyak perdebatan panjang. Fungsi Rasulullah saw. diutus Allah adalah tidak lain mengangkat harkat dan martabat manusia termasuk kaum perempuan. Banyak contoh yang dilakukan Rasulullah saw. dalam konteks semacam hal itu seperti pembatasan perkawinan, perbudakan dan sebagainya. Adanya teks-teks hadis yang “misoginis” merupakan respon atas masyarakat pada saat itu yang berbudaya patriarkhi dan menindas perempuan. Bukankan perempuan pada masa Jahiliyah tidak dihargai sama sekali. Kelahiran anak perempuan merupakan aib dan oleh sebab itu di antara mereka ada yang mengkubur hidup-hidup perempuan dengan harapan tidak menanggung beban malu. Seiring dengan fajar Islam yang ditandai dengan dengan diutusnya Rasulullah saw. secara pelan-pelan bentuk penindasan atas perempuan dihilangkan.

Oleh karena itu, untuk menjembatani adanya yang pro dan kontra maka penulisan istilah misoginis di sini ditulis dalam tanda kutip. Secara luas, kajian atas hadis-hadis “misoginis” perlu dikembangkan untuk memperlihatkan wajah Islam yang sesungguhnya.

IV. FORMAT PENELITIAN DAN RAMBU-RAMBUNYA

A. Penentuan masalah dan topik persoalan yang akan dibahas

Setiap penelitian tentunya didahului adanya suatu permasalahan yakni adanya kesenjangan antara das sein dan das sollen. Mencari persoalan ketidakadilan gender bukan merupakan suatu persoalan yang mudah. Ada tidaknya jiwa sensitivitas gender dalam kehidupan seseorang tergantung dirinya sendiri. Banyak orang di pedesaan yang tidak mau tahu tentang persoalannya padahal kebayakan hak-dan kewajibannya sering terabaikan. Masalah kesenjangan pendidikan dan perekonomian merupakan dua buah persoalan mendasar dalam rangka untuk menumbuhkan ketidakadilan gender.

Kenyataan tersebut dibuktikan dalam penelitian baik di Indonesia maupun di negara lain seperti Mesir tentang tradisi khitan perempuan. Tradisi tersebut tidak banyak ditemukan di daerah perkotaan yang nota bene kebanyakan penduduknya telah mengalami pendidikan yang tinggi.

1. Penggalian Data

Data yang berupa hadis yang akan dikaji dapat diperoleh melalui penelusuran hadis lewat metode takhrij al-hadis. Inti dari usaha ini adalah mecari hadis-hadis yang akan diteliti dan keberadaannya dalam beberapa kitab hadis yang diinginkan untuk diteliti. Metode ini dapat dilakukan melalui lima cara, yaitu:

a) Periwayat di tingkat sahabat. Kitab yang digunakan adalah seperti kitab Musnad Ahmad ibn Hanbal dan sebagainya. Pencarian dengan metode semacam ini jarang dilakukan karena sulit untuk mendapatkan hadis dengan cepat dan mudah.

b) Kata-kata tertentu dalam Hadis. kitab yang biasa digunakan adalam Mu’jam Mufahras li Alfaz al-Hadis al-Nabawi karya Dr. Arnold John Wensinck (w. 1939 m.). Kitab ini Terdiri atas tujuh juz: I 1936 M., II 1943 M., III 1955 M., IV 1962 M., V 1965 M., VI 1967 dan VII 1969 M.

Cara mencai hadis: berdasar matan hadis, baik awal atau pertengahannya bahkan bagian-bagian lainnya dari hadis. kamus ini berisi sembilan kitab hadis: Sahih al-Bukhari, sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmizi, Sunan Ibn Majah, Sunan al-Nasai, Sunan al-Darimi, Muwatta Imam Malik dan Musnad Ahmad ibn Hanbal. Catatan yang patut diperhatikan:

(1) Semua angka sesudah nama kitab (dalam arti bagian) atau bab pada Sahih al-Bukhari, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasai, Sunan Ibn Majah dan Sunan al-arimi menunjuk angka bab, bukan nomor urut hadis. (2) Semua angka sesudah nama kitab (dalam arti bagian) atau bab Sahih Muslim dan Muwatta Malik menunjuk angka urut hadis, bukan angka urut bab. (3) pada Musnad Ahmad terdapat dua angka yang lebih besar dari angka biasa berarti juz sedangkan angka biasa menunjukkan halaman dan (4) lambang bintang ** memberikan penjelasan bahwa hadis tersebut tercantum lebih dari satu kali hadis.

c) Tema tertentudari dari suatu hadis. Kitab yang dipakai adalah Miftah Kunuz Al-Sunnah atau A Handbook Of Early Muhammadan yang diterbitkan tahun 1927 dalam edisi bahasa Inggris dan tahun 1934 M. dalam edisi bahasa Arab oleh Muhammad Fuad Abd al-Baqi.

Dikemukakan beberapa topik baik berdasar petunjuk Nabi Muhammad saw. maupun yang berkaitan dengan nama. Untuk setiap topik biasanya diikuti sub topik yang didalamnya dijelaskan hadis-hadis dan kitab yang menjelaskannya.

Terdiri atas 14 kitab hadis dengan tambahan lima kitab: sembilan kitab dalam Mujam Mufahras dengan tambahan Musnad al-Tayalisi, Musnad Zaid ibn Ali, Sirah Ibn Hisyam Magazi al-Waqidi dan Tabaqat ibn Saad.

أول = juz pertama

ب = bab

بخ = Sahih Bukhari

بد = Sunan Abu Dawud

تر = Sunan al-Tirmizi

ثالث = juz ketiga

ثان = juz kedua

ج = juz

حم = Musnad Ahmad

خامس = juz kelima

رابع = juz keempat

ز = Musnad Zaid ibn Ali

سادس = juz keenam

ص = halaman

ط = Musnad al-Tayalisi

عد = Tabaqat ibn Saad

ق = bagian kitab

قا = konfirmasi data sebe-

lumnya dengan data sesudahnya

قد = Magazi al-Waqidi

ك = kitab (bagian)

ما = Muwatta Malik

مج = Sunan Ibn Majah

مس = Sahih Muslim

م م م = hadis terulang beberapa kali

مى = Sunan al-Darimi

نس = Sunan al-Nasai

هش = Sirah ibn Hisyam

d) Awal dari matan suatu hadis. Kitab yang digunakan adalah al-Jami al-Sagir Karya Al-Suyuti W 911 H./1505 M. Berdasar Awal Abjad Dari Awal Matan Hadis. Di dalamnya dijelaskan periwayat pertama di tingkat sahabat, dan nama mukharrijnya. Di samping itu, disertai pula dengan penilaian hadis yang dilakukan ulama atau yang disetujui oleh al-Suyuti, namun di kalangan ulama hadis al-Suyuti dianggap ulama yang tasahul dan masih perlu penelitian kembali. Dan di dalamnya tidak dijelaskan letaknya hadis di mana juz atau bagian mana. Oleh karena itu, harus dilengkapi kamus lain.

Lambang yang menunjukkan mukharrij hadis

عم = Zawaid Ahmad oleh Abdullah

فر = al-Ailami: al-firdaus, masur al-khitab al-mukharrij ala kitab al-syihab

ق = Bukhari Muslim (muttafaq alaih)

قط = Sunan al-Daruqutni

ك = Mustadrak al-Hakim

م = Sahih Muslim

ن = Sunan al-Nasai

ه = Sunan Ibn Majah

هب = al-Baihaqi: Syuab al-Iman

هق = Sunan al-Baihaqi

3 = diriwayatkan tiga orang oleh Dawud, Turmuzi dan Nasai dalam kitab sunannya

ع = diriwayatkan oleh empat orang yakni Dawud, Turmuzi, Ibn Majah dan Nasai dalam kitab sunannya

ت = Sunan al-Tirmizi

تخ = al-Tarikh al-Bukhari

حب = Sahih ibn Hibban

حل = Hilyatul Auliya

حم = Musnad Ahmad ibn Hanbal

خ = Sahih al-Bukahri

خد = al-Adab al-Bukhari

خط = Tarikh al-Bagdadi

د = Sunan Abu Dawud

ش = Riwayat Abu Syaibah

ص = al-Sunan Saad ibn Mansur

طب = al-Mujam al-Kabir al-Tabrani

طس = al-Mujam al-Wasit al-Tabrani

ع = Musnad Abi Yala

عب = al-Jami A. Raziq ibn Hammam

عد = al-Kamil fi al-Duafa

عق = al-Uqaili dalam al-Duafa

e). Ciri-ciri tertentu dalam suatu hadis. misalnya hadis-hadis qudsi dalam kitab al-ahadis al-qusdiyah dan sebagainya

Untuk mendapatkan hadis selain lima cara di atas dapat juga dilakukan melalui CD ROM Maktabah Alfiyah li al-Sunnah al-Nabawiyah dan Mawsuat al-Hadis al-Syarif. Melalui cara ini didapatkan hadis secara mudah berikut tentang langkah-langkah penelitian yang lainnya dalam meneliti sanad dan matan.

Upaya di atas adalah untuk memudahkan dalam i’tibar sanad. Dengan penyertaan banyak rangkaian sanad dalam tiap hadisnya diharapkan dapat dilihat nilai suatu hadis dari sisi kuantitas periwayatnya. Dari sini muncul istilah mutawatir dan ahad baik dalam lingkup masyhur, aziz dan garib.

2. Penelitian Sanad dan Matan Hadis: sebagai langkah awal

Kriteria hadis sahih adalah dari segi sanad dan matannya. Kriteria dalam penelitian sanad berbeda dengan penelitian matan. Kriteria penelitian sanad adalah lima hal yakni bersambung sanandnya, adil, dapat dipercaya dan terhindar dari syaz dan illat.

Langkah-langkah yang harus ditempuh antara lain:

a. Menyebutkan nama periwayat secara lengkap

b. Kuniyah dan laqabnya

c. Guru dan muridnya (روى عن -عنه)

d. Pendapat ulama tentang al-jarh wa ta’dil

e. Kerismpulan

Adapun kitab-kitab yang diperlukan dalam meneliti sanad antara lain:

a. Ibn Asir, Usud al-Gabah fi Marifat al-Sahabah

b. Al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib

c. Al-Zahabi, Mizan al-Itidal

d. Al-Zahabi, Siyar Alam wa al-Nubala

e. Al-Razi, al-Jarh wa al-Tadil

f. Al-Bundari, Mawsuat fi Rijal al-Kutub al-Sttah

g. dan sebagainya.

Dari pembahasan segi sanad di atas dapat diperoleh kesimpulan hadis tersebut sahih dan jika tidak maka diperlukan penelitian yang lebih mendalam tentang adanya syadz dan illat. Setelah diketahui status hadis dari segi periwayatnya, maka langkah selanjutnya adalah penelitian matan hadis. penelitian ini lebih sulit dibanding dengan penelitian sanad hadis. Kesulitan tersebut disebabkan oleh adanya periwayatan secara makna, acuan yang digunakan tidak satu macam, zdanya kandungan hadis yang bersifat suprarasional dan masih langkanya kitab-kitab hadis yang membahas penelitian matan.

Hal yang patut diperhatikan adalah meneliti matan adalah dengan kualitas sanadnya maksudnya adalah meneliti matan sesudah sanad, setiap matan harus bersanad dan kualitas matan tidak harus sejalan dengan kualitas sanad. Adapun unsur-unsurnya adalah tidak ada syuzuz dan illat. Dalam menjabarkan dua kriteria tersebut ulama berbeda-beda pandangan. Seperti yang diungkap oleh al-Khatib al-Bagdadi: (1) Tidak bertentangan dengan akal sehat, (2)Tidak bertentangan dengan hukum al-Quran, (3) Tidak bertentangan dengan hadis mutawatir, (4) Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan, (5) Tidak bertentangan dengan dalil yang pasti, (6) Tidak bertentangan dengan hadis ahad yang kualitasnya lebih kuat.

Sedangkan Salah al-Din al-Idlibi menunjuk kriteria: (1) Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Quran, (2) Tidak bertentangan dengan hadis yang kuat, (3) Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera dan sejarah, (4) Susunan pernyataannya menunjukkan cii-ciri sabda kenabian.

Cara meneliti matan adalah sebagai berikut:

1). MENELITI SUSUNAN REDAKSI MATAN YANG SEMAKNA

Terjadinya perbedaan lafal: periwayatan secara makna ditolelir jika tidak terjadi perbedaan makna. Akibat terjadinya perbedaan lafal: penelitian lebih intens (perbandingan matan)

Ziyadah (tambahan lafal atau kalimat oleh periwayat tertentu sedang periwayat lain tidak); macam-macam: Ziyadah periwayat siqat, bertentangan dengan kebanyakan periwayat siqat, Ziyadah periwayat siqat, tidak bertentangan (ditolak), Ziyadah periwayat siqat terhadap lafal tertentu, periwayat siqat lainnya tidak

Idraj: memasukkan pernyataan yang berasal dari periwayat ke dalam suatu matan hadis yang diriwayatkan sehingga mengesankan sebagai pernyataan Nabi Muhammad saw. dan tidak ada penjelasan.

2) MENELITI KANDUNGAN MATAN

Membandingkan kandungan matan yang sejalan: penting takhrij bi al-mawdu dan

Membandingkan kandungan matan yang tidak sejalan (ikhtilaf al-hadis). jika terjadi yang demikian maka dilakukan penyelesaian dengan cara:

a. Al-Qarafi (w. 684 H.): al-tarjih (al-nasih wa mansukh dan al-jamu)

b. Al-Tahawani: al-nasih wa mansukh dan al-Tarjih.

c. Ibn Hajar al-Asqalani: al-Jamu, al-nasih wa mansukh, al-tarjih, al-tauqif

d. Adib Salih: al-jamu, al-tarjih dan al-nasih wa mansukh

Adapun kitab-kitab yang dapat dijadikan acuan adalah:

a. Kitab-kitab syarah hadis dan Tafsir al-Quran

b. Kitab-kitab yang membahas garib al-hadis, asbab al-wurud, mukhtalif al-hadis, fiqh al-hadis, dan mustalah al-hadis.

c. Kitab sejarah Nabi Muhammad saw. dan sejarah Islam

d. Kitab-kitab ilmu kalam.

3) MENYIMPULKAN HASIL PENELITIAN MATAN

kesimpulan yang dperoleh adalah hadis tersebut maqbul (diterima) atau mardud (ditolak).

3. Pelacakan Pemahaman teks asal dan perkembangan sesudahnya

Setlah status hadis diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah men kandungan suatu hadis yang dapat dilakukan dua cara yaitu memahami hadis berdasarkan makan asli teks tersebut dan yang kedua bagaiamana pemahaman teks tersebut dalam kesejarahannya sejak masa sahabat sampai sebelum kajian yang kita lakukan saat ini.

Langkah-langkah yang lazim digunakan dalam memahami suatu hadis adalah analisis kebahasaan. Bentuk semacam ini banyak dijumpai dalam kitab-kitab syarah hadis. Selain itu juga ditemukan upaya pemahaman melalui asbab al-wurud hadis (analisis sosio historis), sosiologis, dan antropologis.[14]

Tradisi keilmuan terus berkembang dan jika tidak demikian kehidupan manusia akan terus tertinggal. Kenyataan tersebut juga menggejala di dalam pemahaman hadis, terutama sejak adanya isu gender bergulir di IAIN dan STAIN. Gender sebagai problema sosial budaya menjadikan perlunya pemahaman ulang atas ajaran agama, termasuk atas hadis-hadis misoginis (yang membenci perempuan). Masalah ini penting untuk segera dilakukan karena dalam ajaran yang terdapat di dalam al-Qur’an banyak menekankan persamaan antara laki-laki dan perempuan baik di bidang ibadah maupun lainnya. Di samping itu, untuk menjaga citra Islam yang diturunkan melalui Rasulnya sebagai suatu yang rahmat bagi seluruh alam.

Cara mendapatkan pemahaman hadis yang utuh dan komprehensif adalah dengan menganalisis yang cukup memadai atas berbagai sisi terutama bagaimana makna suatu hadis tersebut ketika diturunkan. Upaya ini perlu merujuk berbagai hadis yang setema dengan menggunakan Miftah Kunuz al-Sunnah atau melalui CD Maktabah Alfiyah li al-Sunnah al-Nabawiyah, perkembangan pemahaman suatu hadis oleh generasi sesudahnya baik sahabat maupun ulama lainnya dan baru melaksanakan kontekstualisasi. Upaya tersebut dapat dilaksanakan jika status suatu hadis yang akan dikaji tersebut sudah jelas sahihnya. Jika tidak maka diperlukan alternatif mencari hadis lain yang lebih kuat.

Prinsip yang harus dipegangi dalam rangka melaksanakan kontekstualisasi hadis adalah: prinsip ideologi, perinsip otoritas, prinsip klasifikasi, dan prinsip regulasi terbatas[15]

Secara garis besar panduan analisis teks/matan hadis adalah:

A. Makna Asal Suatu Matan

Prinsip : Biarkan hadis berbicara dengan sendirinya

Metode : Analisis kebahasaan: Etimologis, Leksikal dan konteks

Pendekatan : Filologi tradisional, Memahami matan hadis sesuai makna

pencipta teks

Hasil : Tekstual

B. Ragam Pendapat dalam Sketsa Historis

Prinsip : Melihat perkembangan pemahaman suatu matan hadis

Metode : Historis dan content analisis.

Pendekatan : Relegious studies

Hasil : Kontekstual sesuai zamannya

4. Kontekstualisasi pemahaman hadis yang sensitivitas gender

Pada saat ini, persoalan studi hadis tidak hanya terfokuskan pada penelitian hadis dari sisi sanad maupun matan yang berujung pada nilai kehujjahannya semata. Walaupun kajian terhadap kedua hal tersebut tetap diperlukan dalam upaya menjembatani kajian yang lebih mendalam. Kajian murni atas sanad dan matan dalam sebuah hadis guna menilai validitasnya sudah kurang relevan lagi saat ini dan akan lebih bermanfaat jika kajian yang dilakukan lebih dari itu yakni bagaimana memahami isi pesan dari suatu hadis tersebut. Upaya ini sering dikenal dengan sebutan ma’an al-hadis atau fiqh al-hadis.

C. Pengembangan/Kontekstualisasi

Prinsip : Pemahaman baru yang lebih segar dan mEmbumi

Metode : Hermeneutik ala gadamerian

Pendekatan : Relegious studies

Hasil : Produktif, Tidak repetitif dan Realis, lebih membumi

Pemahaman baru sesuai yang sifatnya temporal dan spacial

Untuk memperkaya kajian atas hadis-hadis misoginis, contoh tentang khitan perempuan dan imam sholat perempuan.


DAFTAR PUSTAKA

al-Qur’an al-Karim

Ali, Nizar. Memahami Hadis Nabi (Metode dan pendekatan). Yogyakarta: CESaD YPI al-Rahmah, 2001.

Ali, Syed Ameer. The Spirit of Islam A History of the Evolution and Ideals of Islam with A Life the Prophet. India: Idarah-i Adabiyat-I Delli, 1978.

Azra, Azyumardi. Peranan Hadis dalam Perkembangan Historiografi Awal Islam dalam al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, No. 11 Oktober-Desember 1993.

Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Hasyim, al-Husain Abd al-Majid. Us}u>l al-H}adi>s| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih. Cet. II; Mesir: Da>r al-Syuru>q, 1986.

Ilyas, Hamim. “Kontekstualisasi Hadis dalam Studi Gender dan Islam” dalam Siti Ruhaini Dzuhayatin, dkk., Rekonstrulsi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender dalam Islam. Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, McGill-ICIHEP dan Pustaka Pelajar, 2002.

‘Itr, Nur al-Din. Manhaj al-Naqd fi ‘Ulu>m al-H}adi>s|. Cet. III; Beirut: Da>r al-Fikr, 1992.

Rahman, Fazlur. Islamic Methodology in History. Karachi: Central Institute of Islamic Research, 1965.

Rakhmat, Jalaluddin. “Dari Sunnah ke Hadis atau Sebaliknya?” dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah. Cet. II; Jakarta: Paramadinah, 1995.

al-Syatibi, Abu Ishaq. al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah. Jilid II. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th.

Suryadilaga, M. Alfatih (ed.). Studi Kitab Hadis . Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2003.

———Klasifikasi Kitab-kitab Hadis dalam Sejarah Perkembangan Hadis, Jurnal Esensia Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol. 3, No. 2, Juli 2002.


aDisampaikan dalam Workshop Metodologi Penelitian Berperspektif Gender pada tanggal 14 Desember 2003 di Hotel Ardi Kencana Baturaden Purwokerto yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Gender STAIN Purwokerto bekerjasama dengan Ditjend Bagais Departemen Agama RI.

bDosen Jurusan TH Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Direktur Lembaga Studi al-Qur’an (eLSAQ), sekretaris penyunting Jurnal Studi Ilmu-ilmu al-Qur’an dan Hadis, sedang menyelesaikan disertasi di PPS IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

[1]Lihat Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), 12-24.

[2]Lihat Abu Ishaq al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah, jilid II (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th), 3-5.

[3]Lihat Syed Ameer Ali, The Spirit of Islam A History of the Evolution and Ideals of Islam with A Life the Prophet (India: Idarah-i Adabiyat-I Delli, 1978), bagian V, Status Women in Islam, 222.

[4]Lihat Q.S. al-Nahl (16): 44.

[5]Fungsi tersebut dijelaskan dengan bahasa lain dengan nama bayan mutabiq, bayan mulazim dan bayan tadamun. Lihad Abdul Muin Salim, Beberapa Aspek Metodologi Tafsir al-Qur’an (Ujung Pandang: LSKI, 1990), h. 49-53. bandingkan dengan Mustafa al-Siba’iy, al-Sunnah wa Maka>natuha fi> al-Tasyri>’ al-Isla>miy (Beirut: al-Maktabah al-Isla>miy, 1978), h. 379-381.

[6]Hadis Nabi Muhammad saw. baru dihimpun sejak masa pemerintahan Umar ibn Abdul Aziz. Kendati demikian, di kalangan sahabat nabi, terdapat sahabat yang menulis hadis secara individual. Mereka itu di antaranya terkenal dengan sahifah al-sadiqah yang ditulis oleh Amr ibn Ash. Lihat Nur al-Din ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulu>m al-H}adi>s| (Cet. III; Beirut: Dar al-Fikr, 1992), 39-48 M.M. Azami, Studies in Early Hadith Literature diterjemahkan dengan judul Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya oleh Ali Mustafa Ya’qub (Cet. I; Jakarta: Pustaka Firdaus, 1994), 106-122. al-Husain Abd al-Majid Hasyim, Us}u>l al-H}adi>s| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih (Cet. II; Mesir: Da>r al-Syuru>q, 1986), 13-22.

[7]Para sahabat nabi sangat selektif di dalam menerima suatu hadis di dalam memutuskan suatu hukum. Mereka harus menyertakan saksi-saksi yang menunjukkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda demikian. Lihat Ibid., 51-52.

[8]Terhadap asal-usul adanya hadis maudu’ dan penyebab-penyebabnya Lihat Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib, Us}u>l al-H}adi>s| ‘Ulu>muh wa Mus}t}alahuh (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 45-428.

[9]Pengertian dan penjelasan tentang berbagai istilah yang terkait dengan hadis lihat seperti Nur al-Din ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi ‘Ulu>m al-H}adi>s| (Cet. III; Beirut: Da>r al-Fikr, 1992), dan al-Husain Abd al-Majid Hasyim, Us}u>l al-H}adi>s| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih (Cet. II; Mesir: Da>r al-Syuru>q, 1986).

[10]Lihat Fazlur Rahman, Islamic Methodology in History (Karachi: Central Institute of Islamic Research, 1965), 32, dan Azyumardi Azra, Peranan Hadis dalam Perkembangan Historiografi Awal Islam dalam al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, No. 11 Oktober-Desember 1993, 37

[11]Lihat Jalaluddin Rakhmat, “Dari Sunnah ke Hadis atau Sebaliknya?” dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Cet. II; Jakarta: Paramadinah, 1995), 230.

[12]Dalam sejarahnya, hadis telah didudukkan oleh generasi sesudahnya dengan baik. Penjagaan dan pemeliharaan hadis terus berlangsung dari generasi ke generasi sampai terbukukannya dengan baik. Oleh karena itu, setidaknya ada dua pola dalam melihat perkembangan hadis yakni dengan melihat secara detail peristiwa-peristiwa yang mengitarinya dan melihat hasil kodifikasinya. Lihat M. Alfatih Suryadilaga, (ed.), Studi Kitab Hadis (Yogyakarta: TH Press dan Teras, 2003), x-xi.

[13]Lihat berbagai metode penulisan hadis dalam M. Alfatih Suryadilaga, Klasifikasi Kitab-kitab Hadis dalam Sejarah Perkembangan Hadis, Jurnal Esensia Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Vol. 3, No. 2, Juli 2002, 227-231.

[14]Nizar Ali, Memahami Hadis Nabi (Metode dan pendekatan) (Yogyakarta: CESaD YPI al-Rahmah, 2001), 53-112.

[15]Lihat Hamim Ilyas, “Kontekstualisasi Hadis dalam Studi Gender dan Islam” dalam Siti Ruhaini Dzuhayatin, dkk., Rekonstrulsi Metodologis Wacana Kesetaraan Gender dalam Islam (Yogyakarta: PSW IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, McGill-ICIHEP dan Pustaka Pelajar, 2002), 180-184.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s