KEDUDUKAN PEREMPUAN DALAM KONSTRUKSI MEDIA MASSA; STUDI ATAS MAJALAH UMMI PERIODE

Perkembangan industri media, seringkali dikaitkan dengan perkembangan masyarakat informasi. Dalam konteks masyarakat seperti ini, media memiliki peran yang signifikan. Media adalah sebagai sarana komunikasi antar berbagai subjek. Ia merupakan medium yang menjembatani relasi komunikasi seluruh anggota masyarakat. Sehingga dengan demikian media merupakan instrumen komunikasi yang sangat vital dalam masyarakat. Perkembangan industri media menjadi sangat strategis karena media memiliki peran yang cukup besar dalam masyarakat. Bahkan dalam batas-batas tertentu, media media telah mengalami pemaknaan yang sangat luas. Media dalam perkembanganya memiliki relasi dengan banyak faktor seperti; politik, ekonomi, sosial, budaya dll, sehingga dengan persinggungan tersebut media tidak lagi bisa dipandang independen. Begitu juga Majalah UMMI sebagai Majalah Islam yang menyuarakan kepentingan perempuan, menjadi tak bisa disangkal sangat dipengaruhi dalam pemberitaannya oleh komunitas dan realitas yang ada disekitarnya.
Penelitian ini mempertanyakan persoalan tentang bagaimana kedudukan perempuan dalam konstruksi majalah Ummi, khususnya edisi pasca reformasi, tahun 1998-2005?. Kedua, faktor apa saja yang mempengaruhi konstruksi majalah Ummi terhadap kedudukan perempuan. Dengan metode analisis wacana beserta critical linguistic yang kemudian diperkuat dengan analisa framing, penelitian ini dilakukan.
Adapun hasil temuan dari kinerja penelitian ini adalah; Pertama, Kedudukan perempuan dalam konstruksi Majalah UMMI khususnya edisi pasca reformasi tahun 1998-2005, masih kental akan adanya frame gagasan subordinat dan patriarkhis. Meskipun Majalah ini mengedepankan isu global akan pentingnya emansipasi wanita dengan menggunakan dasar-dasar dalil normatif dari al-Qur’an al-Karim, tidak bisa dipungkiri bahwa isu kontent berita yang termuat dari rentetan-rentetan paragrapnya masih cenderung patriarkhis. Terbukti masih banyaknya berita bahkan gambar-gambar dari cerita anak-anak Islam yang ada pada redaksi cerpen atau artikelnya, memberikan peran yang sangat domestik kepada kaum perempuan. Mayoritasnya, kaum perempuan masih diperankan sebagai pekerja domestik sedangkan kaum laki-laki sebagai pekerja publik.
Kedua, Faktor yang mempengaruhi konstruksi Majalah UMMI terhadap kedudukan perempuan adalah di antaranya; Pertama, adanya nuansa kebijakan-kebijakan pemerintahan Orde Baru. Dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang terkesan mempetakan kaum perempuan sebagai pekerja domestik, awak Jurnalis Majalah UMMI khususnya edisi tahun 1998-2005 belum bisa melepaskan diri dengan konstruk sosial yang ada. Terkesan ada cengkraman kebijakan pmerintah Orde Baru. Hal itu tercermin dalam nuansa cerpen, berita, artikel dan cerita-cerita pendek. Bahkan cerita yang bernuansa Islam-pun terkena bias dari adanya kebijakan pemetaan pemerintah Orde Baru. Kedua, keringnya analisa dari awak Jurnalis Majalah UMMI terhadap perkembangan pemikiran jender, sangat mempengaruhi akan diturunkannya sebuah berita. Terkesan awak Jurnalis Majalah UMMI sengaja hanya menempatkan magnum opus pemikiran dan gagasan feminis tradisional. Tidak ada sama sekali keberanian analisa untuk melawan kebijakan pemerintah, mengakibatkan analisa yang dipakai sebatas analisa gagasan pemikiran feminis tradisional. Karena itu banyak muatan bahasa dalam pemberitannya, masih cenderung terkonstruk oleh realita kebijakan negara yang sangat patriarkhis.

GENDER MAINSTREAMING DALAM KURIKULUM MATA KULIAH AGAMA ISLAM DI PTN & PTS DI YOGYAKARTA

Kesetaraan perempuan merupakan problem mendasar dalam pendidikan. Berdasarkan kenyataan yang ada masih terdapat adanya kesenjangan antara laki-laki dna perempuan. Oleh karena itu, Departemen Pendidikan Nasional melalui upaya Pengarusutamaan Gender (PUG) melakukan pengurangan kesenjangan tersebut. Artikel ini adalah untuk melihat tentang PUG di Perguruan Tinggi Khususnya di DI. Yogyakarta. Untuk mendapatkan gambaran yang memadai tentang pengarus utamaan jender maka maka digunakan sample untuk UGM dna UNY sebagai PTN dan PTS diwakili oleh UII dan UPN. Matakuliah agama Islam dipilih karena dalam matakuliah tersebut masih ditemukan materi yang bias jender, seperti penciptaan perempuan dna sebagainya. Kenyataan menunjukkan bahwa kurikulum agama Islam di PTN dan PTS tersebut belum bernuansa netral gender baik dalam upaya penjelasan materi keagamaan ataupun ilustrasi kalimat yang dipakai dalam penjelasan materi. Selain itu, dalam model pembelajarannya, matakuliah Islam masih bias gender sepanjang mata kuliah agama diampu oleh pengajar/dosen yang belum sadar gender. Meskipun dosen mata kuliah agama memahami spirit Islam yang mendorong keadilan sesame gender

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s