Sosok Pahlawan dalam Konteks Nation State dan UIN Sunan Kalijaga

Sejak Indonesia merdeka 1945, pemerintah Indonesia telah mengangkat dan menetapkan sebanyak 147 pahlawan nasional. Peristiwa penganugerahan gelar pahlawan nasional tersebut galibnya dilaksanakan menjelang peringatan hari pahlawan nasional 10 Nopember dalam setiap tahunnya. Tanggal tersebut mengingatkan pada suatu peristiwa yang heroik di Surabaya yakni peristiwa mempertahankan Negara Republik Indonesia dari tangan penjajah. Namun saying, sosok Bung Tomo yang menjadi pemimpin dalam peristiwa 10 Nopember 1945 sampai saat Ini belum diangkat menjadi pahlawan kendati sudah banyak yang mengusungnya baik dari pemerintah daerah atau lembaga sosial kemasyarakatan. Kini, bangsa Indonesia memasuki moment tersebut, bulan Nopember tahun 2007.

Sebagaimana lazimnya rutinitas yang ada, pemerintah Indonesia melalui Kepres nomor 066/TK/Tahun 2007 dan nomor selanjutnya sampai 069/TK/Tahun 2007 kembali menganugerahkan pahlawan dan bintang tanda jasa. Kesembilan putra terbaik bangsa yang mendapat gelar kehormatan tersebut antara lain Alm. Mayjen TNI (Purn) dr. Adnan Kapau Gani, Alm Dr Ide Anak Agung Gde Agung, Alm Mayjen TNI (Purn) Prof Dr Moestopo, Alm Brigjen TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Rijadi, Ahmad Dahlan Ranuwihardjo SH, dan Prof Dr Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Rohana Koeddoes, Alm Nya’ Abbas Akub dan Alm Daeng Soetigna. Kesembian orang tersebut dianggap paling berjasa di bidangnya dalam konteks keIndonesiaan.

Di antara sembilan orang yang mendapatkan gelar pahlawan nasional di atas yang menarik dalam konteks perjalanan IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah Prof Dr Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Beliau lahir di Lhokseumawe, 10 Maret 1904. Adalah seorang ulama besar dan aktif di dunia pendidikan. Karya–karya beliau menjadi rujukan masyarakat terpelajar di Indonesia. Beliau selain pernah menjabat sebagai dekan Fak. Syari’ah juga menjadi Guru Besar Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kiprah Prof Dr Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam memajukan IAIN Sunan Kalijaga dalam konteks keIndonesiaan cukup besar.

Menilik Asal Usul Term Pahlawan

Sebagaimana rutinitas di atas, maka di benak masyarakat Indonesia istilah pahlawan akrab terdengar paling tidak sebagai rutinitas yang hadir dalam setiaptahunnya tanggal 10 Nopember. Bagi masyarakat yang terdidik, khususnya masa-masa di bangku sekolah dasar (SD) selalu dikenalkan dalam istilah-istilah seperti Pahlawan Kebangsaan, Pahlawan Revolusi, bahkan sampai dengan Pahlawan Reformasi. Dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pahlawan berasal dari kata ‘pahala’ dan kata ’wan’. Pahlawan adalah orang yang bekerja untuk mendapatkan pahala. Akankah setiap masyarakat bangsa Indonesia ini harus berjenggot panjang dan bersorban tebal untuk bisa meraih gelar pahlawan.

Tentunya, tidak hanya terpaku pada pakaian yang digunakan seseorang. Setiap orang bisa menjadi pahlawan. Jadi pahlawan tidak hanya sebatas mereka yang ditetapkan pemerintah berjasa dalam bidangnya. Seorang pemimpin merupakan pahlawan bagi rakyatnya, seorang guru merupakan pahlawan bagi muridnya, seorang dosen merupakan pahlawan bagi mahasiswanya, seorang dokter merupakan pahlawan bagi pasiennya, bahkan seorang ayah merupakan pahlawan bagi anak dan keluarganya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pahlawan adalah orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain dalam bahasa hadis Nabi saw. Khair al-Nas anfa’ahum li al-Nas. Dengan demikian sosok pahlawan sangatlah kontekstual.

Penjelasan di atas menimbulkan pertanyaan sosok siapa yang berhak menyandang pahlawan ideal. Tentunya, bagi seorang muslim yang taat akan berkata Nabi Muhammad saw. Beliaulah penyelamat umat manusia dalam tataran dua dimensi sekaligus, dimensi dunia dan dimensi akhirat yang kemudian dilanjutkan para ulama di nusantara ini seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan. Dalam konteks kesejarahan di masala lampau, Gajah Mada yang bertekad bulat menyatukan seantero Nusantara. Bahkan bisa jadi, sosok pahlawan dalam konteks kekinian bisa saja tidak berupa person tertentu melainkan lembaga tertentu seperti lembaga pendidikan yang banyak mengentaskan masalah pendidikan bangsa yang dapat memajukan bangsa dan negara ke arah kemajuan. Oleh karena itulah tidak heran jika dalam konteks Nastional State UIN Sunan Kalijaga merupakan pioner atau pahlawan dalam menumbuhkan rise of education yang tahun 2007 ini keluarga besar UIN berbahagia salah satu staf pengajarnya mendapatkan gelar pahlawan nasiona.

Kilas Sejarah dan Dinamika UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Dalam konteks National State, keberadaan UIN Sunan Kalijaga merupakan rentetan panjang dari perjuangan ummat Islam di Indonesia awal abad ke-20. Diawali pada awal tahun 1945 ketika MASYUMI memutuskan untuk membuat Sekolah Tinggi Islam yang dua tahun sebelumnya, 1943 telah digagas oleh MIAI. STI sendiri diresmikan 8 Juli 1945 bertepatan dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. 27 Rajab 1364 H. Setelah pasca kemerdekaan NICA kembali ke Indonesia dan tidak memungkinkan perkuliahan diadakan di Jakarta. Oleh karenanya, STI ditutup dan ikut hijrah ke Yogyakarta. STI Yogyakarta kembali dibuka 10 April 1946 oleh Presiden Soekarno dan Wapres, Mohamamd Hatta.

Paa perkembangannya untuk efektivitas, STI berubah menjadi Universitas dengan Nama Universitas Islam Indonesia (UII) yang diresmikan pada 10 Maret 1948 bersamaan dengan Dies Natalis STI ke-3 di Kepatihan Yogyakarta. Fakultas yang dibuka antara lain Agama, Hukum, Ekonomi dan Pendidikan. Sebagai wujud penghargaan Pemerintah Republik Indonesia bagi Yogyakarta sebagai kota Revolusi, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 1950, maka didirikan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIS) yang pertama, yang diambil dari Fakultas Agama UII berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1950. Peresmian PTAIN dengan tiga jurusannya: Dakwah (kelak menjadi Fakultas Ushuluddin), Qadla’ (kelak menjadi Fakultas Syari’ah) dan Tarbiyah (kelak menjadi Fakultas Tarbiyah) sebagai Perguruan Tinggi berlangsung pada tanggal 26 September 1951.

Selanjutnya berdasarkan Peraturan Presiden No. 11 tahun 1960 PTAIN yang berpusat di Yogyakarta berganti nama menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) “Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Al-Hukumiyyah”. Perkembangan berikutnya berdasarkan Peraturan Presiden No. 27 tahun 1963 didirikanlah IAIN ke-2 di Jakarta setelah IAIN di Yogyakarta. Selanjutnya jumlah IAIN terus bertambah hingga mencapai 14 IAIN. Berdasarkan Keputusan Menteri Agama No. 26 Tahun 1965, terhitung mulai tanggal 1 Juli 1965 IAIN “Al-Jami’ah Al-Islamiyyah Al-Hukumiyyah” di Yogyakarta berganti nama menjadi : IAIN Sunan Kalijaga.

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai penyelenggara Pendidikan Tinggi Agama Islam di Indonesia telah berkiprah selama 56 tahun. Sejak berdirinya, 26 September 1951 sampai 26 September 2007, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta kini berubah menjadi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 50 tertanggal 21 Juni 2004 dengan 33 prodi/jurusan. Perubahan tersebut menyebabkan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memperluas program studi dan jurusan serta fakultas yang dimilkinya. Oleh karena itu, untuk menjadi sebuah universitas UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menambah dua fakultas, yaitu sains dan teknologi serta ilmu sosial dan humaniora.

Hasbi dan Pendidkan

Bagi mahasiswa PTAI di Indonesia tidak afdal kalau tidak mengenal sosok Prof Dr Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Beliau merupakan dekan pertama dari Fakultas Syari’ah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s