MODEL-MODEL LIVING HADIS PP. KRAPYAK YOGYAKARTA

This article explores the phenomena of hadith which have been traditions of Muslim society. This study of the phenomenon of hadith is also called as ”living hadith” which defined as the religious phenomenon such as modes of conduct based on or responses to interpretation of hadith texts. By using the methods of observation, interview, and documents and the integrated-interconected scientific approach of UIN Sunan Kalijaga, the research found that the phenomena of living hadith Pondok Pesantren Al-Munawwir and Ali Maksum Krapyak can be classified into three traditions: oral tradition, written tradition, and practical tradition. Factors that formed the three traditions are beside of religious motivations also caused by cultural acculturation between local (Javanese) culture and Islamic doctrin and differences of the methods of interpretation on hadith texts among Muslim community.

Kata Kunci: hadis, living hadis, PP. Krapyak, lisan, tulis, praktik.

A. Pendahuluan

Hadis bagi umat Islam merupakan suatu yang penting karena di dalamnya terungkap berbagai tradisi yang berkembang masa Rasulullah saw. Tradisi-tradisi yang hidup masa kenabian tersebut mengacu kepada pribadi Rasulullah saw. sebagai utusan Allah swt. Di dalamnya syarat akan berbagai ajaran Islam karenanya keberlanjutannya terus berjalan dan berkembang sampai sekarang seiring dengan kebutuhan manusia. Adanya keberlanjutan tradisi itulah sehingga umat manusia zaman sekarang bisa memahami, merekam dan melaksanakan  tuntunan ajaran Islam yang sesuai dengan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.

Jika mengacu kepada tradisi Rasulullah saw., yang sekarang oleh ulama hadis telah dijadikan sebagai suatu yang terverbalkan sehingga memunculkan istilah hadis dan untuk membedakan dengan istilah sunnah,[1] maka di dalamnya syarat adanya tatanan yang mapan dalam kehidupan bermasyarakat, bernegara dan beragama. Figur Nabi Muhammad saw. yang dijadikan tokoh sentral dan diikuti oleh masyarakat sesudahnya. Sampai disini, istilah yang populer di kalangan masyarakat adalah istilah hadis. Tentu, dalam istilah tersebut mengandung berbagai bentuk dan meniscayakan adanya epistemologi yang beragam dalam kesejarahannya. [2]

Namun, apa yang terjadi di dalam persoalan seputar kodifikasi dan keilmuan hadis tidak berhenti dalam dimensiologi tersebut. Terkait erat dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat yang semakin kompleks dan diiringi adanya keinginan untuk melaksanakan ajaran Islam yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., maka hadis menjadi suatu yang hidup di masyarakat. Istilah yang lazim dipakai untuk memaknai hal tersebut adalah living hadis.

Tulisan ini akan membahas model-model living hadis yang berkembang dalam  tradisi Islam, khususnya di D.I. Yogyakarta. Sebelum sampai pada persoalan living hadis di D.I. Yogyakarta, digambarkan sekilas tentang pembahasan tentang bentuk dan variasi living hadis secara umum. Setelah hal itu dibahas persoalan bentuk dan ragam living hadis yang berkembang  di masyarakat Yogyakarta seperti di PP. Karapyak.

  1. B. Sekilas tentang Pondok Pesantren Al-Munawwir dan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta

Pondok Pesantren Al-Munawwir terletak di Dusun Krapyak, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bagian utara berbatasan dengan tapal batas antara Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Alamat Pondok Pesantren Al-Munawwir berada di Jl. KH. Ali Maksum Krapyak Tromol Pos 5 Yogyakarta 55002.

Gambar 5. Masjid Ponpes Al-Munawwir dan Ali Maksum

Pondok Pesantren Al-Munawwir didirikan oleh KH. M. Moenauwir pada tanggal 15 Nopember 1910 M. Sejak awal berdirinya dan masa perkembangannya, pondok pesantren ini semula bernama Pondok Pesantren Krapyak, karena memang terletak di dusun Krapyak. Pada tahun 1976, nama pondok ini ditambah dengan Al-Munawwir, sehingga lengkapnya adalah Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Penambahan nama Al-Munawwir ini untuk mengenang pendirinya, yaitu KH. M. Moenauwir. Selain itu, Pondok Pesantren ini terkenal sebagai Pondok Pesantren Al-Qur’an. Hal ini sesuai dengan keahlian KH. M. Moenauwir yang menjadi figur ulama ahli Al-Qur’an di Indonesia pada masanya. Dan Al-Qur’an inilah yang menjadi ciri khusus Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.

Pada perkembangan selanjutnya, Pondok Pesantren Al-Munawwir ini tidak lagi mengkhususkan pada bidang Al-Qur’an saja, melainkan merambah ke bidang ilmu-ilmu lain, khususnya pendalaman kitab kuning, yang disusul dengan sistem Madrasah (klasikal), yang pada gilirannya disusul dengan lahirnya lembaga-lembaga.

Pertumbuhan dan perkembangan Pondok Pesantren Al-Munawwir dapat dilihat dari periodisasi kepemimpinan pondok pesantren, yaitu:

  1. Periode KH. M. Moenauwir (1910 -1 942 M)
  2. Periode KH. A. Affandi, KH. R. Abdul Qadir, KH. Ali Maksum (1942 – 1968 M)
  3. Periode KH. Ali Maksum (1968 – 1989 M)
  4. Periode KH. Zainal Abidin Munawwir (1989 M – sekarang)

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta ini mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat, khususnya pada bidang pendidikan. Sampai sekarang, telah berdiri lembaga-lembaga pendidikan, di antaranya Madrasah Huffadz, Madrasah Salafiyah I, II, III, IV, Al-Ma’had Al-‘Ali (Perguruan Tinggi Ilmu Salaf), Majlis Ta’lim, dan Majlis Masysyayih.

Metode, sistem pengajaran, dan kurikulum di Pondok Pesantren Al-Munawwir adalah berciri salafi, dengan dibimbing para tenaga pengajar yang terdiri dari para Kyai, Asatidz, dan santri-santri senior. Santri yang bermukim di Pondok Pesantren Al-Munawwir ini tidak hanya berasal dari daerah Yogyakarta saja, melainkan juga berasal dari daerah-daerah yang berada di pulau Jawa, luar Jawa, bahkan dari luar Indonesia, seperti Malaysia, Thailand, Korea, dan lain-lain.

Dalam pengelolaannya, Pondok Pesantren ini ditangani oleh Kepengurusan, yang terdiri dari Pengurus Pusat, Pengurus Komplek, dan Pengurus Kamar, serta Kepengurusan yang bersifat otonom, seperti Pengurus Usaha Kesehatan Santri (UKS), Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren), dan lain-lain.Untuk menunjang keberhasilan belajar, Pondok Pesantren Al-Munawwir menyediakan berbagai fasilitas untuk santri, seperti sarana ibadah, gedung belajar, asrama santri, perpustakaan, alat-alat keterampilan, dan lain-lain.

Hingga saat ini, alumni (mutakharrij) Pondok Pesantren Al-Munawwir ini sudah mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh pelosok tanah air dengan menekuni berbagai macam bidang dan keahlian. Untuk meningkatkan ukhuwwah Islamiyah di antara para alumni, maka dibentuklah sebuah wadah yang diberi nama Ikatan Keluarga Alumni Pondok Pesantren Al-Munawwir (IKAPPAM), yang secara resmi berdiri pada tahun 1992.

Pada perkembangan selanjutnya, berdiri juga Yayasan Ali Maksum (kemudian terkenal dengan sebutan Pondok Pesantren Ali Maksum). Yayasan ini berdiri setelah meninggalnya KH. Ali Maksum, dan dipegang oleh KH. Attabik Ali. Yayasan Ali Maksum, berbeda dengan Pondok Pesantren Al-Munawwir yang mengelola pesantren secara salafi, mengelola pesantren secara modern. Sehingga berdirilah beberapa Madrasah, seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ali Maksum, Madrasah Aliyah (MA) Ali Maksum, dan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) Ali Maksum. Walaupun demikian, Yayasan Ali Maksum ini masih berada dalam koordinasi Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta.[3]

2.a. Fenomena Seputar Praktik Shalat

Dalam rangka memotret fenomena seputar praktek shalat di Pondok Pesantren Al-Munawwir dan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, penelitian ini hanya akan memfokuskan pada shalat Jum’at. Ada beberapa hal yang disorot; yaitu adzan Jum’at dua kali, fenomena menaikkan khatib yang dilakukan oleh muraqqi (baca: muadzin), pengalihan tongkat dari muadzin kepada khatib ketika khatib akan naik mimbar, membaca shalawat di antara dua khutbah yang dilakukan oleh muadzin, bacaan surat setelah al-Fatihah, serta shalat sunnat Qabliyah dan Ba’diyah Jum’at.

Di antara beberapa point di atas, ada yang menjadi penyebab khilafiyah di antara berbagai kelompok; di antaranya adzan Jum’at dua kali, fenomena menaikkan khatib yang dilakukan oleh muraqqi (baca: muadzin), pengalihan tongkat dari muadzin kepada khatib ketika khatib akan naik mimbar, dan shalat sunnat Qabliyah Jum’at. Khilafiyah atau perbedaan ini hanya disebabkan perbedaan dalam mengambil dalil.[4]

Semua praktik ibadah yang dilakukan ada sumber dalilnya. Atas dasar itu, adzan Jum’at dua kali merupakan Sunnah (baca: kebiasaan) yang dihidupkan pada masa kepemimpinan Khalifah Usman bin ‘Affan ra. Karena pada zaman Nabi Muhammad saw. adzan Jum’at biasa dilakukan hanya satu kali. Sebab kenapa Usman melakukan ini adalah karena semakin majunya daerah Islam dan semakin sibuknya aktivitas umat Islam. Sehingga untuk melakukan shalat Jum’at tidak cukup memanggil hanya satu kali.[5]

Adapun tentang fenomena menaikkan khatib yang dilakukan oleh muraqqi (baca: muadzin), dengan membaca satu hadis peringatan agar jamaah Jum’at jangan ada yang bicara ketika khatib sedang Jum’at, tidak ada hadis yang menyebutkan secara jelas. Hanya ada hadis riwayat Ibnu ‘Abbas yang menyatakan, bahwa barangsiapa  berbicara pada saat khatib sedang khutbah, maka shalat Jum’atnya sia-sia.[6]

Hadis inilah yang menjadi dasar adanya fenomena menaikkan khatib yang dilakukan oleh muraqqi. Walaupun bentuknya bermacam-macam, karena ada juga yang berupa pengumuman biasa dengan menggunakan bahasa Indonesia. Substansi dari hadis ini adalah mengingatkan jamaah Jum’at supaya mendengarkan khutbah, terserah bagaimanapun caranya. [7]

Tentang praktik pengalihan tongkat dari muadzin kepada khatib ketika khatib akan naik mimbar, Mustaqim mengutip dari kitab al-Muh}adhdhab fi> Fiqh al-Ima>m al-Sya>fi’i. Menurut al-Fairuzzabadi, sunnah ini dilakukan berdasarkan pada hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim bin Harb. [8]

Kemudian tentang membaca shalawat di antara dua khutbah yang dilakukan oleh muadzin, tidak terdapat hadis yang menyebutkan secara jelas. Hal ini hanya didasarkan pada hadis riwayat Abu Burdah, bahwa waktu di antara duduknya khatib setelah khutbah pertama sampai dilaksanakannya shalat Jum’at adalah waktu mustajab untuk berdoa.[9] Sedangkan doanya adalah dengan membaca shalawat, karena shalawat merupakan pintu gerbang untuk masuk ke dalam doa. Walaupun banyak juga jamaah Jum’at yang berdoa sendiri-sendiri. [10]

Selanjutnya tentang bacaan surat setelah al-Fatihah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, bahwa setelah selesai membaca surat al-Fatihah, pada shalat Jum’at, Rasulullah biasa membaca surat al-Jumu’ah dan surat al-Munafiqun. Adapun menurut hadis riwayat Ibnu ‘Abbas dari Nu’man bin Basyir, Rasulullah biasa membaca surat al-A’la dan surat al-Gasyiyah. [11]

Tetapi, praktik yang dilakukan di masjid Pondok Pesantren Al-Munawwir berbeda dengan apa yang telah dituntunkan Rasulullah saw. Di masjid ini biasanya dibaca al-Hasyr (59): 18-23. Dulu, biasanya dibaca surat-surat yang dianjurkan hadis. Mungkin karena tuntutan psikologis, akhirnya yang dibaca adalah al-Hasyr (59): 18-23. Selain itu, tuntunan dalam hadis itu sifatnya sunnah. [12]

Kemudian tentang shalat sunnat Qabliyah dan Ba’diyah Jum’at. Mustaqim mengutip kitab Iba>nat al-Ah}ka>m, syarah kitab Bulu>gh al-Mara>m karya al-‘Asqala>ni>, bahwa shalat sunat Qabliyah Jum’at didasarkan pada hadis riwayat Abu Hurairah, bahwa barangsiapa yang mandi kemudian hendak melaksanakan shalat Jum’at, maka shalatlah sesuai kemampuan (fashalla ma quddira lahu). Kemudian, kata fashalla ma quddira lahu ditafsirkan oleh para ulama sebagai shalat sunat Qabliyah Jum’at. [13]

Adapun shalat sunat Ba’diyah Jum’at didasarkan pada hadis riwayat Abu Hurairah, bahwa barangsiapa yang melaksanakan shalat Jum’at, maka setelah melaksanakan shalat Jum’at hendaklah shalat sunnat empat rakaat. Adapun jika shalat sunat Ba’diyah Jum’atnya dilakukan di rumah, maka cukup dua rakaat saja. [14] (Ibid.). (Kutipan hadis pada lampiran).

2.b. Fenomena Pembacaan Kitab-kitab Hadis di Bulan Ramadhan

Pondok Pesantren Al-Munawwir dan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta biasa mengadakan Program Khusus Ramadhan setiap tahun. Misalnya di bulan Ramadhan tahun 1427 H ini, kegiatan Progaram Khusus Ramadhan berupa pembacaan kitab-kitab kuning. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 1 – 20 Ramadhan 1427 H / 24 September – 13 Oktober 2006 M. Selain diikuti oleh santri Pondok Pesantren Al-Munawwir dan Ali Maksum, kegiatan ini juga diikuti masyarakat umum yang ada di sekitar pondok, khususnya mahasiswa yang berdomisili di sekitar pondok. Karena kegiatan ini hanya sebagai tambahan pelajaran kitab pada hari-hari selain Ramadhan, maka kitab yang dibaca pun berbeda dari kitab yang biasa dipelajari pada hari-hari biasa di luar Ramadhan. Kitab yang dibaca biasanya diserahkan kepada kebijaksanaan ustadz yang mengampu. Adapun kitab-kitab yang dibaca mencakup kitab-kitasb tentang fiqih, al-Qur’an dan ‘Ulum al-Qur’an, aqidah, akhlak, hadis, dan lughah.

Kitab-kitab hadis yang dibaca selama Ramadhan adalah kitab al-Adhka>r al-Muntakhabah min Kala>m Sayyid al-Abra>r karya Ima>m Muh}y al-Di>n Abu> Zakariyya> Yah}ya> ibn Sharaf al-Nawa>wi> al-Dimashqi> al-Sha>fi‘i>, Sharh} al-Arba‘i>n al-Nawa>wiyyah juga karya Ima>m Yah}ya> ibn Sharaf al-Di>n al-Nawa>wi>, Bulu>g al-Mara>m min Adillah al-Ah{ka>m karya Ibn H{ajar al-‘Asqala>ni>, Riya>d} al-S{a>lih}i>n karya Ima>m al-Nawa>wi> al-Dimashqi, dan Luba>b al-H{adi>th karya Ima>m Jala>luddi>n al-Suyu>t}i>.

Tujuan dari pembacaan kitab kuning ini adalah sebagai pengkayaan wacana ke-Islaman. Metode yang dipakai melalui pembacaan biasa, dalam rangka mengartikan kitab, tidak disertai dengan pemahaman dan pendalaman materi. Walaupun dalam beberapa kasus—hal ini didasarkan pada kebijakan ustadz—ada juga yang lebih menekankan pada pendalaman materi. Misalnya, kitab Sharh} al-Arba‘i>n al-Nawa>wiyyah hanya ditekankan pada pemaknaan saja, yaitu memaknai kitab kalimat per kalimat, disertai dengan penjelasan tarki>b (baca: susunan) kalimat menurut kaidah Nah{w-S{arf. Alasannya adalah untuk mengejar target khatam selama Ramadhan. [15]

Berbeda halnya dengan pengajaran kitab Bulu>g al-Mara>m min Adillah al-Ah{ka>m.. Di samping pembacaan dan pemaknaan terhadap kitab, juga ditekankan pada pemahaman materi kitab. Dengan metode seperti ini, maka tidak mengejar target khatam. Jadi, bila tidak selesai dibaca selama Ramadhan, pembacaan kitab ini bisa dilanjutkan pada Ramadhan tahun depan. [16] Metode yang yang sama juga diterapkan pada pengajaran kitab al-Adhka>r al-Muntakhabah min Kala>m Sayyid al-Abra>r. Karena yang lebih ditekankan adalah aspek pemahaman, maka dalam pengajarannya beliau lebih banyak diterangkan isi kitab setelah dibacakan beberapa hadis. Metode ini diterapkan karena santri yang ikut pengajian tidak selalu membawa kitab ke pengajian, bahkan ada santri yang tidak memiliki kitab. Keragaman daya tangkap para santri juga menjadi pertimbangan. Perlu diketahui bahwa pengajaran kitab ini tidak hanya diikuti oleh santri senior yang sudah lama belajar di pondok, namun juga santri yang baru masuk pondok pun banyak yang ikut serta. [17]

Kitab Syarh} al-Arba’i>n al-Nawa>wiyyah dipilih karena 40 hadis yang terdapat di dalam kitab ini merupakan pokok agama Islam. Sehingga setelah selesai membaca kitab ini, diharapkan santri bisa memahami inti ajaran Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. [18] Begitu pula dengan pemilihan kitab Bulu>g al-Mara>m min Adillah al-Ah{ka>m. Karena kitab ini berisi hadis-hadis penting di bidang fiqih, santri diharapkan dapat mengetahui dalil-dalil fiqih yang biasa ditanyakan di masyarakat setelah kitab ini diajarkan. [19] Namun lain halnya dengan pemilihan kitab al-Adhka>r al-Muntakhabah min Kala>m Sayyid al-Abra>r yang berisi doa-doa sehari-hari. Setelah selesai mengaji kitab ini, diharapkan santri bisa memiliki kemantapan niat, keteguhan pendirian, dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah, baik mah{d{ah maupun gayr mah{d{ah. [20]

Selain bulan Ramadhan, juga ada beberapa kitab hadis yang biasa dikaji, di antaranya adalah kitab Muqtat}afa>t min Ja>mi’ Kalimih S{alla Alla>h ‘Alyhi wa Sallam karya KH. Zaenal Abidin Munawwir, yang merupakan ringkasan dari kitab Fayd} al-Qadi>r karya Ima>m al-Manawi>; dan kitab Iba>nah al-Ah}ka>m karya Hasan Sulaima>n al-Nu>ri> dan ‘Alwi ‘Abba>s al-Makki>, yang merupakan syarah kitab Bulu>g al-Mara>m min Adillah al-Ah{ka>m. [21] Sayangnya, kitab-kitab hadis induk seperti S{ah}i>h} al-Bukha>ri> dan S{ah}i>h} Muslim tidak dikaji baik pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Alasannya adalah karena pengajian kitab hadis di pondok ini diorientasikan kepada amaliah. Sehingga kitab yang dikaji adalah kitab yang membahas amaliah sehari-hari yang praktis, khususnya yang bersifat fiqih oriented.

2.c. Fenomena Pembelajaran al-Qur’an

Hal yang diteliti pada bagian ini adalah respons para ustadz dan santri Huffadz terhadap hadis tentang keutamaan orang yang mengajar dan mempelajari al-Qur’an, yaitu: “Khairukum man ta‘allam al-qur’a>n wa ‘allamah.” [22] Hadis ini mengisyaratkan, bahwa orang yang belajar dan mengajarkan al-Qur’an memiliki keistimewaan sebagai “sebaik-baik orang di antara kamu”. Bentuk pembelajaran yang dimaksud hadis ini bisa berupa belajar membaca, memahami, maupun menghafal al-Qur’an.

Pembelajaran al-Qur’an di Komplek Huffadz Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak saat ini hanya ditekankan pada kegiatan menghafal (tah}fi>z}) al-Qur’an saja, tidak disertai pendalaman makna. Dahulu, di samping menghafal al-Qur’an, kegiatan pembelajaran al-Qur’an juga disertai dengan memahami maknanya dan mempelajari ‘Ulumul Qur’an. Perubahan ini berakibat pada pemahaman santri terhadap al-Qur’an yang beragam. Tidak disertainya pendalaman makna juga disebabkan karena sekitar 80 % santri yang menghafal al-Qur’an juga sambil kuliah. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu, hanya 20 % saja yang sambil kuliah. Walaupun demikian, terkadang ada ustadz yang memberi pelajaran tambahan selain menghafal al-Qur’an. Namun hal itu tidak bersifat formal. [23]

Adapun metode menghafal al-Qur’an di Komplek Huffadz ini adalah santri menghafal secara personal. Setelah hafalannya cukup, baru menemui ustadz yang telah ditunjuk oleh Kyai. Waktu setorannya adalah setelah Isya dan Shubuh. Adapun setelah Maghrib, biasanya membaca al-Qur’an secara bersama-sama dalam rangka mengulang hafalan (takra>r). [24] Hafalan di bawah 10 juz disetorkan kepada ustadz yang ditunjuk Kyai. Sedangkan hafalan di atas 10 juz baru diperbolehkan untuk disetorkan kepada Kyai. [25]

Ada fenomena unik dalam kegiatan takra>r yang dilakukan setelah shalat Maghrib ini. Biasanya, sebelum takra>r, para santri secara bersama-sama membaca syair yang berisi doa agar dilancarkan dalam menghafal al-Qur’an.

Kemudian setelah hafalan mencapai 30 Juz, biasanya ada beberapa santri yang melakukan ritual khusus (baca: riya>d{ah). Ritualnya adalah dengan membaca al-Qur’an selama 40 hari, per harinya khatam satu kali, yang diiringi dengan puasa selama 40 hari, serta ibadah-ibadah sunnah lainnya. Ritual ini biasanya dilakukan di masjid, atau di makam pendiri pondok, yaitu Mbah KH. Al-Munawwir, yang terletak di Pemakaman Umum daerah Dongkelan. Karena beratnya ritual ini, tidak semua santri bisa melakukannya. Tujuannya agar hafalan al-Qur’an semakin lancar. Dengan demikian, sebenarnya cara menghafal al-Qur’an itu ada dua cara. Pertama, usaha lahir, dengan cara menghafal. Kedua, usaha batin, dengan cara melakukan ritual, riyadah, shalat sunnat, puasa sunnat, atau zikir. Tetapi KH. Zaenal Abidin Munawwir lebih menekankan pada aspek lahir, yaitu menghafal al-Qur’an dan men-deres hafalan yang lalu. [26]

Selain kegiatan menghafal al-Qur’an, setiap 2 tahun sekali, pihak pondok mengadakan wisuda bagi santri-santri yang telah selesai khatam al-Qur’an. Ada empat kategori yang mengikuti wisuda al-Qur’an. Pertama, Qira>’ah Mashhu>rah bi al-Ghayb 30 juz. Kedua, Qira>’ah Mashhu>rah bi al-Naz}ar 30 juz. Ketiga, Qira>’ah Sab‘ah bi al-H{ifz} bi al-Ghayb. Keempat, Juz’ ‘Amma bi al-Ghayb. [27].

Tentang menghafal Qira>’ah Sab‘ah, biasanya dibimbing langsung oleh KH. Najib Abdul Qadir. Kegiatan ini hanya dikhususkan bagi santri yang telah selesai menghafal al-Qur’an sebanyak 30 juz. Adapun kitab yang jadi pegangan dalam menghafal Qira’ah Sab’ah adalah kitab Fayd{ al-Barakat fi> Sab’i al-Qira>’at karya Muhammad Arwani bin Muhammad Amin al-Qudusi. [28]

Intinya, kegiatan pembelajaran al-Qur’an seperti tersurat dalam hadis di atas hanya difokuskan kepada menghafal al-Qur’an dan menyetorkannya, yang dilakukan oleh para santri; serta menyimak dan membetulkan hafalan al-Qur’an para santri, yang dilakukan oleh ustadz. Kegiatan mengkaji makna, memperdalam, dan mengamalkan al-Qur’an, yang juga terkandung dalam hadis ini, tidak dilaksanakan.

D. Simpulan

Berdasarkan atas uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Living hadis merupakan suatu bentuk pemahaman hadis yang berada dalam level praksis lapangan. Oleh karena itu, pola pergeseran yang digagas oleh Fazlur Rahman berbeda sama sekali dengan kajian living hadis. Apa yang dijalankan di masyarakat kebanyakan tidak sama sesuai dengan misi yang diemban Rasulullah saw. melainkan berbeda sesuai dengan konteks yang ditujunya. Ada perubahan dan perbedaan yang menyesuaikan karakterristik masing-masing lokalitasnya. Sebagaimana digambarkan oleh Rumi tentang sejumlah orang yang menilai gajah dalam kegelapan.
  2. Aras living hadis dapat dilihat dalam tiga bentuk, yaitu tulis, lisan, dan praktik. Ketiga model dan bentuk living hadis tersebut satu dengan yang lainnya sangat berhubungan. Pada awalnya gagasan living hadis banyak pada tempat praktik. Hal ini dikarenakan prektek langsung masyarakat atas hadis masuk dalam wilayah ini dan dimensi fiqh yang lebih memasyarakat ketimbang dimensi lain dalam ajaran Islam. Sementara dua bentuk lainnya, lisan dan tulis saling melengkapi keberadaan dalam level praksis. Bentuk lisan adalah sebagaimana terpampang dalam fasilitas umum yang berfungsi sebagai jargon atau mtto hidup seseorang atau masyarakat. Sementara lisan adalah berbagai amalan yang diucapkan yang disandarkan dari hadis Nabi Muhammad saw. berupa zikir atau yang lainnya.
  3. Living hadis di Pondok Pesantren Al-Munawwir dan Ali Maksum Krapyak Yogyakarta dapat diklasifikasikan ke dalam tradisi lisan, tulisan, dan praktik. Tradisi lisan meliputi: (1) fenomena pembacaan kitab-kitab hadis selama bulan Ramadhan; dan (2) fenomena pembelajaran al-Qur’an (yang menekankan pada aspek hafalan). Sementara yang termasuk dalam tradisi praktik meliputi: (1) fenomena seputar shalat (praying cycle) Jum’at. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan tradisi living hadis adalah di samping karena faktor motivasi keagamaan, seperti penanaman nilai-nilai Islam dan pendalaman pengetahuan keislaman, juga dipengaruhi oleh tradisi lokal yang mengakibatkan percampuran budaya lokal (Jawa) dengan ajaran Islam yang bersifat sinkretis dan perbedaan metode pemaknaan (interpretasi) terhadap teks-teks hadis.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin. “Etika Tauhidik sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuan Umum dan Agama dari Paradigma Positivistik-Sekularistik ke Arah Teoantroposentrik-Integralistik”, dalam Jarot Wahyudi (ed.). Menyatukan Kembali Ilmu-ilmu Agama dan Umum Upaya Mempertemukan Epistemologi Islam dan Umum. Yogyakarta: SUKA-Press, 2003.

Abu Dawud, Sunan Abu Dawud Ditahqiq oleh Muhammad Jamil, juz III. Beirut: Dar al-Fikr, 1994.

Abu Zahu, Muhammad Muhammad. al-h}adi>s| wa al-Muhaddisun. Beirut: Da>r al-Kitab al-’Arabiy, 1984.

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. “Menafsir ‘al-Qur’an yang Hidup’, Memaknai al-Qur’anisasi Kehidupan: Perspektif Antropologi Budaya”, Makalah Seminar “Living Qur’an: Al-Qur’an sebagai Fenomena Sosial Budaya”, Yogyakarta, 13-15 Maret 2005.

Al-Syauka>ni>, Nail al-Aut”a>r, juz VII. Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, t.th.

Andrisijanti, Inajati. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela, t.th..

Anees, Munawar Ahmad. Islam dan Masa Depan Biologis Umat Manusia, Etika, Jender, Teknologi terj. Rahmani Astuti. Bandung: Mizan, 1992.

Asqalani, Ibn Hajar. Fath al-Bari fi Syarh al-Sahih al-Bukhari, juz X. Libanon: Dar al-Ma’rifah, 1885,

Azra, Azyumardi. Peranan Hadis dalam Perkembangan Historiografi Awal Islam dalam al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, No. 11 Oktober-Desember 1993.

Bukhari, Abu Abdillah Muhammad ibn Isma’Islam. Sahih al-Bukhari, juz IV. Beirut: Da>r al-Fikr, t.th.

CD ROM Mausu’at al-Hadis al-Syarif.

Chawari, Muhammad. “Masjid Agung Kotagede: Kajian Awal terhadap Inskripsi yang Ada”, dalam Berkala Arkeologi. Edisi Khusus Tahun 1994.

Connoly, Peter. Aneka Pendekatan Studi Agama. Alih Bahasa Imam Khoiri. Yogyakarta: LKIS, 2002.

Haq, Jad al-Haq Ali Jad. “Khitan” dalam Majalah al-Azhar, edisi Jumadil Ula, 1415 H.

Hasyim, al-Husain Abd al-Majid. Us}u>l al-H}adi>s| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih. Cet. II; Mesir: Da>r al-Syuru>q, 1986.

Ibn Hanbal, Ahmad. Musnad Ahmad ibn Hanbal, juz V. Beirut: al-Maktab al-Isla>mi>, 1978.

Itr, Nur al-Din. Manhaj al-Naqd fi> ‘Ulu>m al-H}adi>s|. Cet. II; Beirut: Da>r al-Fikr, 1992.

Karim, Mahmoud. Female genital Mutlation Circumcision (Ilustrated) Social, Religious, Sexual and Legal Aspect. Kairo: Da>r al-Ma’arif, 1995.

Khallaf, Abdul Wahab. Ilm Usul al-Fiqh. Kairo: Da>r al-Qalam, 1978.

Al-Khatib, Muhammad ‘Ajaj. Us}u>l al-H}adi>s| ‘Ulu>muh wa Mus}t}alahuh. Beirut: Da>r al-Fikr, 1989.

Koentjaraningrat. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka, 1984.

Kurniawan, Syamsul. “Hadis Jampi-jampi dalam kitab Mujarrabat Melayu dan Taj al-Muluk Menurut Pandangan Masyarakat Kampung Seberang Kota Pontianak Propinsi Kalbar “, Skripsi Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tahun 2005.

Mahmud, Moh. Natsir. “Studi Al-Qur’an dengan Pendekatan Historisisme dan Fenomenologi Evaluasi Terhadap Pandangan Barat tentang Al-Qur’an”, Disertasi Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Kalijaga, 1992, tidak diterbitkan.

Mook, H. J. van. Kuta Gede. Jakarta: Bhratara, 1972.

Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996.

Munawir, Ahmad Warson. Kamus Arab Indonesia al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progressif, 1986.

Mundziri. Logika. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.

Najmuddin. “Pemahaman Masyarakat Bayan terhadap al-Qur’an (Studi Perbandingan antar Masyarakat Penganut ajaran Islam Wetu Tellu dengan Penganut Ajaran Islam Wetu Lima)”, Skripsi Mahasiswa TH Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005.

Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga. Kerangka Dasar Keilmuan dan Pengembangan Kurikulum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004.

Rahman, Fazlur. Islam terj. Ahsin Muhammad . Bandung: Pustaka, 1994.

Rahman, Fazlur. Islam. London: University of Chicago Press, 1979.

Rahman, Fazlur, Islamic Methodology in History. Karachi: Central Institute of Islamic Research, 1965.

Rakhmat, Jalaluddin. “Dari Sunnah ke Hadis atau Sebaliknya?” dalam Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah. Cet. II; Jakarta: Paramadinah, 1995.

Ramali, Ahmad. Peraturan-peraturan untuk Memelihara Kesehatan dalam Hukum Syara’ Islam. Jakarta: Balai Pustaka, 1956.

Robson, James. “Magic Cures in Popular Islam” dalamSamuel M. Zweemer (ed.), Moslem World, Vol XXIV. New York: Karuss Reprint Corporation, 1996.

Sabiq, Sayyid. Fiqh al-Sunnah, juz I. Beirut: Da>r al-Fikr, t.th.

Sanusi, A. Hajar. Memasuki Islam dalam berbagai Pintu dalam al-Hikmah Jurnal Studi-studi Islam No. 14  vol VI tahun 1995.

Septiyani, Retnosyari dan Murniyati. “Tradisi Sadranan di Masyarakat Jawa”, dalam Kedaulatan Rakyat. Sabtu 23 September 2006.

Shahab, Husein. Pergeseran antara Sunnah Nabi dan Sunnah Sahabat: Perspektif Fiqih dalam al-Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, No. 6 Juli-Oktober 1992.

Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta: UI Press, 1986.

Suryadilaga, M. Alfatih. “Ilmu Hadis sebagai Cabang Ilmu Pengetahuan (Analisis Epistemologis)” dalam Esensia Jurnal-jurnal Ilmu Keushuluddinan, Vol 1, No. 2 Juli 2000.

Waharjani, “Khitan dalam Tradisi Jawa” dalam Jurnal Profetika UMS II, vol 2, Juli 2000.

Wawancara

A. M. (Ustadz Al-Munawwir dan Ali Maksum), wawancara: Jum’at, 6 Oktober 2006.

M. (Ustadz Al-Munawwir), wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

K. (Ustadz Al-Munawwir), wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

M. H.(Ustadz Al-Munawwir), wawancara: Jum’at, 6 Oktober 2006.

A. J. (Ustadz Al-Munawwir), wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

H. M. (Santri Al-Munawwir), wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

S. (Santri Al-Munawwir), wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.


[1]Lihat dalam berbagai kitab ‘Ulu>m al-H}adi>s| antara lain Nur al-Din ‘Itr, Manhaj al-Naqd fi> ‘Ulu>m al-H}adi>s| (Cet. II; Beirut: Da>r al-Fikr, 1992),  26, Muhammad ‘Ajaj al-Khatib, Us}u>l al-H}adi>s| ‘Ulu>muh wa Mus}t}alahuh (Beirut: Da>r al-Fikr, 1989), 27. Muhammad Muhammad Abu Zahu, al-h}adi>s| wa al-Muhaddisun (Beirut: Da>r al-Kitab al-’Arabiy, 1984), 8-9, al-Husain Abd al-Majid Hasyim, Us}u>l al-H}adi>s| al-Nabawiy Ulumuh wa Maqayisih (Cet. II; Mesir: Da>r al-Syuru>q, 1986), 23. Lihat juga analisa Fazlur Rahman dalam bukunya yang berjudul Islam pada bagian ketiga. Fazlur Rahman, Islam (London: University of Chicago Press, 1979), 43-67.

[2]Lihat M. Alfatih Suryadilaga, “Ilmu Hadis sebagai Cabang Ilmu Pengetahuan (Analisis Epistemologis)” dalam Esensia Jurnal-jurnal Ilmu Keushuluddinan, Vol 1, No. 2 Juli 2000.

[3]Berdasarkan wawancara dengan Ustadz A. M., di kediamannya, Imogiri Bantul Yogyakarta, pada Jum’at, 6 Oktober 2006, pukul 21.30 WIB.

[4]M., wawancara: Jum’at, 6 Oktober 2006.

[5]Ibid.

[6]Bukhari: 882حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

[7]Ibid.

[8] Pegang tongkat (Daud: 924)

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ خِرَاشٍ حَدَّثَنِي شُعَيْبُ بْنُ زُرَيْقٍ الطَّائِفِيُّ قَالَ جَلَسْتُ إِلَى رَجُلٍ لَهُ صُحْبَةٌ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لَهُ الْحَكَمُ بْنُ حَزْنٍ الْكُلَفِيُّ فَأَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا قَالَ وَفَدْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَابِعَ سَبْعَةٍ أَوْ تَاسِعَ تِسْعَةٍ فَدَخَلْنَا عَلَيْهِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ زُرْنَاكَ فَادْعُ اللَّهَ لَنَا بِخَيْرٍ فَأَمَرَ بِنَا أَوْ أَمَرَ لَنَا بِشَيْءٍ مِنَ التَّمْرِ وَالشَّأْنُ إِذْ ذَاكَ دُونٌ فَأَقَمْنَا بِهَا أَيَّامًا شَهِدْنَا فِيهَا الْجُمُعَةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصًا أَوْ قَوْسٍ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ كَلِمَاتٍ خَفِيفَاتٍ طَيِّبَاتٍ مُبَارَكَاتٍ ثُمَّ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَنْ تُطِيقُوا أَوْ لَنْ تَفْعَلُوا كُلَّ مَا أُمِرْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ سَدِّدُوا وَأَبْشِرُوا قَالَ أَبُو عَلِيٍّ سَمِعْت أَبمو دَاومد قَالَ ثَبَّتَنِي فِي شَيْءٍ مِنْهُ بَعْضُ أَصْحَابِنَا وَقَدْ كَانَ انْقَطَعَ مِنَ الْقِرْطَاسِ

[9]Waktu mustajab berdoa ketika khatib duduk sampai shalat, Muslim: 1409.

و حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ مَخْرَمَةَ بْنِ بُكَيْرٍ ح و حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ وَأَحْمَدُ بْنُ عِيسَى قَالَا حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنَا مَخْرَمَةُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ لِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَأْنِ سَاعَةِ الْجُمُعَةِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ *

[10] Ibid.

[11]Muslim: 1418

حَدَّثَنَا أُمَيَّةُ بْنُ بِسْطَامٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ يَعْنِي ابْنَ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا رَوْحٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّي مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى وَفَضْلُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ *

[12]Ibid.

[13] Ibid.

[14]

[15]M., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[16]K., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[17]H., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[18]M., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[19]K., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[20]H., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[21]M., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[22]Sahih Bukhari 4639: حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِالرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عُثْمَانَ رَضِي اللَّهم عَنْهم عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

[23]J., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[24]Ibid.

[25]M., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

[26]Ibid.

[27]S., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006

[28]J., wawancara: Kamis, 5 Oktober 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s