Metodologi Syarah Hadis

Buku Terbitan Suka Press April 2012,

ISBN 978-979-8547-50-8

Daftar Isi

  1. Pengantar,
  2. Sejarah Syarah
  3. Metode Syarah
  4. Pendekatan Syarah
  5. Pola Syarah
  6. Contoh Kitab Syarah
  7. Daftar Pustaka

KATA PENGANTAR

METODOLOGI SYARAH HADIS ERA KLASIK HINGGA KONTEMPORER
(POTRET KONSTRUKSI METODOLOGI SYARAH HADIS)

Pembahasan mengenai metodologi syarah hadis, sampai saat ini masih terasa penting untuk dikaji. Hal ini disebabkan karena semakin berkembangnya persoalan agama. Karena itu, cara dan model pensyarahan hadis yang ada menjadi point perhatian utama untuk mendapatkan hasil tepat dari mengkaji sebuah pesan Nabi. Karena itu, bagaimanapun juga memahami metodologi syarah hadis di era klasik dan kontemporer yang memiliki perbedaan dan kesamaan, menjadi pembacaan dan peneropongan yang cukup menarik untuk segera dicermati, alih-alih memahami cara dan sistem bagaimana ulama’ ahli hadis yang berbeda zaman pada saat itu memberikan tawaran yang cukup berbeda. Tentu dengan kekuatan analisa dan eksperimen pensyarahan yang ditampilkan saat itu yang hampir sudah bisa dibilang mencukupi tarap keilmuan, menjadi persoalan lain untuk dibicarakan. Sejauhmana ulama’ hadis mutaqoddimin dan muta’akhkhirin menerapkan model metodologi (metode dan pendekatan) pensyarahan hadis Nabi, menjadi pijakan utama dalam kajian peneropongan model metodologi syarah hadis dari era klasik sampai kontemporer.

Syarah, Hasyiyah & Hermeneutik
Perlu diketahui bahwa, kadang kala hanya karena definisi yang berbeda atau cakupan ruang lingkup yang memiliki batasan tipis, sebuah kajian tertentu menjadi tidak atau jarang diminati. Pada hal jika dicermati lebih jauh, kajian tersebut memiliki atau bahkan saling mempunyai koneksitas keilmuan. Misalkan syarah, hasyiyah dan hermeneutik. Meskipun penyebutannya berbeda, namun di antara ketiganya hampir mempunyai tujuan yang sama yaitu berupaya memahami sesuatu (redaksi hadis Nabi, red). Syarah, yang merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab sya-ra-ha – yasyrahu – syarhan, merupakan kata yang bermakna upaya menafsirkan, menerangkan atau membeberkan (fassara, bayyana, basat}a). Sedangkan ha>syiyah, juga merupakan kata bahasa Arab yang bisa bermakna sebagai komentar pinggir, catatan pinggir, tambahan, NB, atau bisa dikatakan sebagai catatan kaki (ha>misyun fil kita>b).
Kata ha>syiyah, sering juga dimaknai sebagai t}arafa, hadda, atau ja>nibun yang berarti sisi pinggir, ujung atau samping. Sedangkan kata hermeneutik, banyak yang mengartikan sebagai upaya dasar “penafsiran” atau interpretasi. Makna hermeneutik tersebut, pada perkembangannya mengalami perkembangan makna meskipun pada dasarnya adalah tetap bermakna “penafsiran” atau interpretasi. Dengan demikian, syarah sebetulnya bisa dianalogikan dengan tafsir. Kalau syarah, biasanya berada pada hadis, sedangkan tafsir berada pada level al-Qur’an. Akan tetapi definisi atau penganalogian tersebut bisa mengalami perkembangan bahkan mungkin mempunyai perbedaan yang sangat jauh dari di atas.

Sejarah Perkembangan Syarah Hadis.
Sejarah perkembangan syarah hadis, tentu sangat mengikuti perkembangan hadis. artinya, perkembangan syarah muncul setelah perkembangan hadis sudah mengalami beberapa dekade perjalanan. Yaitu setelah era sebabagaimana terlihat  sebaagai berikut ;
Rentetan catatan historis yang terekam dari sejumlah peristiwa-peristiwa yang mengitari hadis merupakan obyek dari pembahasan ini. Kehadirannya dimulai sejak kelahirannya sampai tumbuh dan berkembangnya dari generasi ke genarasi berikutnya. Hal tersebut terkait erat dengan respon masing-masing generasi yang berbeda-beda dari generasi satu dengan yang lainnya. Tentu saja, pembahasan terhadap masalah ini juga harus didukung dengan pembahasan terhadap sejarah perkembangan ‘Ulu>m al-H}adi>s|.
Terdapat perkembangan yang significant dalam isi maupun materi yang dibahas dalam beberapa kitab hadis. Dalam perjalanan hadis sejak masa pewahyuan sampai munculnya berbagai kitab standar dan variasi di dalamnya dapat dilihat dalam klasifikasi di bawah ini:
1.    عصر الوحى والتكوين, masa kelahiran hadis dan pembentukan masyarakat Islam.  Priode ini ditandai dengan pewahyuan  hadis oleh Nabi Muhammad saw.  dengan cara lesan, tertulis maupun demonstrasi praktis.  Terhadap penjagaan hadis Nabi Muhammad saw., pada masa tersebut dilakukan dengan cara menghafal dan terkadang jika memungkinkan bagi sahabat tertentu dapat menulis hadis-hadis yang diperolehnya.    Sampai di sini memunculkan diskusi panjang tentang tradisi penulisan hadis. Setidaknya ada dua hadis yang menerangkan tentang larangan penulisan hadis dan pembolehan penulisannya.  Di samping itu, masa ini juga dinamai dengan masa pembentukan masyarakat Islam. Karena pada masa inilah Nabi Muhammad saw. menggembleng masyarakatnya dengan baik dengan meninggalkan mutiara yang sangat berharga berupa al-Qur’an dan hadis.  Rentang waktu masa ini berjalan selama 23 tahun, selama Nabi Muhammad saw. diutus oleh  Allah swt. sebagai Rasulullah untuk menyebarkan ajaran Islam.
2.    عصر التثبت والاقلال من الرواية, masa pematerian dan penyedikitan riwayat. Hanya berjalan pada masa pemerintahan Khulafa’ al-Rasyidun (11-40 H.).  Masa ini ditandai dengan upaya sahabat besar dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Hanya terhadap periwayat-periwayat tertentu saja yang dapat diterima. Oleh karena itu, nampak bahwa pada masa ini hadis tidak banyak yang dimaterikan karena adanya kehati-hartian sahabat dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Hadis baru tersebar luas dan menjadi suatu yang penting sejak wafatnya Usman ibn Affan dan masa-masa sesudahnya. Persoalan  di bidnag politik lambat laun menjadi suatu persoalan kegamaan dengan munculnya justifikasi-justifikasi ajaran Islam melalui hadis.
3.    عصر الانتشار الرواية إلى الأمصار, masa penyebaran ke berbagai wilayah. Pelopornya adalah para sahabat kecil dan tabiin besar dari berakhirnya Khulafa’ al-Rasyidun sampai awal Dinasti Munawiyah abad pertama Hijrah. Hadis pada masa ini sudah tersebar ke berbagai wilayah kekuasaan Islam yang tidak hanya di wailayah Hijaz melainkan telah sampai ke Yaman dan bahkan sampai ke Afrika.  Penyebaran hadis tersebut juga dibarengi dengan munculnya madrasah-madrasah di berbagai daerah sebagai pusat  pendidikan keagamaan. Waktu priode ini adalah masa sahabat kecil sampai tabiin.
4.    عصر الكتابة والتدوين, masa pembukuan hadis dimulai awal abad ke-2 H. sampai di penghujung abad tersebut. Abad kedua Hijriyah merupakan mementum baru bagi perkembangan hadis di mana hadis yang sebelumnya dipelihara melalui tradisi hafalan dilakukan dengan cara pembukuan. Kitab hasil kodifikasi ulama pada masa tersebut yang masih ada sampai sekarang adalah Muwatta’ karya imam Malik ibn Anas.   Walaupun sebagai upaya awal,  namun apa yang dilakukan Malik ibn Anas merupakan suatu hal yang baru dan dapat dijadikan kajian oleh ulama sesudahnya. Ini merupakan revolusi dahsyat dan menimbulkan berbagai kritik yang dilakukan para orientalis.  Hadis adalah produk ulama abad pertengahan Islam.
5.    عصر التجريدوالتصحيح والتنقيح, masa penyaringan, pemeliharaan dan pelengkapan, berlangsung selama satu abad penuh dimulai awal sampai di penghujung abad ke-3 H.  Hadis-hadis yang dibukukan tidak seperti pada masa sebelumnya, kini telah ada upaya penyaringan dari unsur-unsur yang bukan hadis Nabi Muhammad saw. Hanya hadis-hadis tertentu yang dimasukkan dalam buku hadis.  Kitab-kitab hadis yang muncul dalam masa ini antara lain Musnad Ahmad,    kutub al-sittah, S}ah}i<h} al-Bukha>ri dan S}ah}i<h} Muslim.
6.    عصر التهذيب والترتيب والاستدراك, masa pembersihan, penyusunan, penambahan dan pengumpulan hadis, dari awal abad ke-4 sampai jatuhnya kota Bagdad tahuin 656 H. Mulai dari masa ini dan sesudahnya, ulama  yang berperan dalam kegiatan hadis disebut ulama mutakhkhirin. Kegiatan yang dilakukan hanya mencukupkan diri dengan mengutip kitab-kitab hadis yang ditadwin oleh ulama abad ke-2 dan 3 H. Oleh karena itu, corak tadwin pada masa ini dan sesudahnya telah beraneka ragam seperti menertibkan hadis, spesialisasi hadis, kitab-kitab komentar dan sebagainya. Seperti yang dilakukan oleh Ismail ibn Ahmad yang menghimpun kitab S}ah}i<h} al-Bukha>ri dan S}ah}i<h} Muslim  dalam satu kitab.
7.    عصر الشرح والجمع والتخريج والبحث عن الرواية والزوائد, masa penyarahan, penghimpunan, pentakhrijan dan pembahasan hadis. Rentang waktu relatif panjang dimulai tahun 656 H. sampai sekarang. Masa ini merupakan kelanjutan masa sebelumnya dan menambah semakin banyaknya khazanah hasil tadwin ulama hadis. Jika dihubungkan dengan sejarah perkembangan ‘Ulu>m al-H}adi>s|, maka masa ini merupakan suatu masa keemasan dan kematangan ‘Ulu>m al-H}adi>s|.  Oleh karena itu, tidak heran jika masa tarakhir perkembangan hadis telah menyempurnakan dirinya dengan berbagai karya hadis yang tetap mengacu pada hasil ulama sebelumnya, mutaqaddimin. Hasil karya ulama periode ketujuh antara lain syarah S}ah}i<h} al-Bukha>ri seperti Fath al-Bari karya al-Asqalani, Umdat al-Qari karya Muhammad ibn Ahma al-Aini dan Irsyad al-Sari karya al-Qastalani.  Hal serupa juga ditemukan pada kitab-itab lain seperti Sahih Muslim, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasa’i, dan Sunan Ibn Majah.
Priodesasi di atas terkesan lebih terperinci dan menyebut berbagai generasi yang terlibat banyak dalam setiap tahap perkembangan hadis. Oleh karena itu, terdapat tujuh tahapan.  Namun, pada perkembangannya ada juga ulama yang hanya membagi ke dalam tiga priode saja seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ajajj al-Khatib. Ketiga periode tersebut masing-masing, qabl al-tadwin (sebelum pembukuan), inda al-tadwin (masa pembukuan) dan ba’da al-tadwin (setelah pembukuan).  Pembahasan  yang dilakukan nampak bahwa hanya berpatokan pada prestasi besar umat Islam dalam menjaga hadis. Tradisi  hapalan ke tradisi tulis oleh ‘Ajjaj  al-Khatib dianggap sebagai sesuatu yang penting. Oleh karena itu, masa-masa sebelum dan masa sesudah pembukuan sudah cukup dikategorikan secara general dengan menafikan peristiwa-peristiwa yang terjadi tiap priodenya.
Sementara Abd al-Aziz al-Khulli dalam bukunya Tarikh Funun fi al-Hadis membagi dalam lima priodesasi.  Secara lengkap dimulai dari masa awal sampai akhir, حفظ الســــنة فى الصدور (1) تدويــنها مختلطة بالفتـــاوى  (2)  إفرادها بالتــدوبن (3) تجريد الصحيح (4) تهذيبها بالترتيب والجمع والشرح (5). Kelima priodesasi yang dikemukakanoleh al-Khalili ini agak terperinci dengan melihat berbagai peristiwa yang terjadi pada masa sesudah tadwin yang  membedakan masa sebelumnya.
Bagi Abd al-Aziz al-Khulli, masa sebelum pembukuan hanya dimasukkan dalam satu priode saja yaitu masa penjagaan sunnah dalam hafalan, dalam masa ini setidaknya ada tiga masa penting dalam perkembangan hadis. Ketiga masa tersebut adalah masa pewahyuan dan pembentukan masyarakat muslim, masa pematerian hadis dan penyedikitan riwayat hadis oleh para sahabat besar (khulafa’ al-rasyidun), dan masa penyebaran riwayat hadis ke berbagai pelosok wilayah Islam yang dilakukan oleh sahabat besar dan tabiin. Namun demikian, apa yang dilakukan al-Khulli dalam pembagiannya sesudah masa pembukuannya hampir mirip dengan yang dilakukan pembagian tujuh priode.

Pada zaman yang terakhir tersebut, abad ke VI/ VII, setting perkembangan hadis, sangat diperlukan adanya pemaparan yang jelas dari beberapa hadis yang dipandang sulit untuk dipahami (Ga>rib al-Hadis) guna dijadikan rujukan untuk memecahkan persoalan umat Islam saat itu. Hal itu karena semakin bertambahnya persoalan dan dibutuhkan penafsiran/ pensyarahan redaksi-redaksi hadis yang dibilang rumit. Karena itu, kitab syarah tidak muncul secara seketika namun ada geneologi dan rentetan-rentetan sejarah yg panjang, misalkan ada embrio munculnya kitab syarah, kitab syarah era klasik (midle era), dan era kontemporer.

Embiro Metodologi Syarah Klasik-Kontemporer
Peneropongan mengenai syarah hadis, tentu mau tidak mau (willy nilyy), harus melihat sejarah awal atau paling tidak sesuatu sebelum munculnya kitab-kitab syarah. Syarah hadis muncul, diasumsikan -paling tidak- setelah berkembangnya beberapa masa seperti; masa pewahyuan al-Qur’an, penulisan atau penyusunan kitab hadis, pengecekkan atau penelitian hadis, dan masa-masa pembersihan dari beberapa isu inkarus sunnah. Setelah masa tersebut terlewati, baru kemudian masa syarah hadis muncul. Tentu munculnya syarah-syarah hadis tersebut dibarengi dengan beberapa kitab-kitab syarah dan munculnya kitab tersebut dipastikan bukan bebas nilai. Ia mempunyai tujuan dan maksud yang beragram bahkan berimplikasi positif meskipun juga tak menafikan akan implikasi negatif yang kadang juga dirasakan.
Embrio kelahiran syarah, juga bisa dikatakan atau dimulai sejak kelahiran Nabi saw  sampai lahirnya tradisi syarah secara spesifik dan terpisah. Meskipun demikian, tradisi yang berkembang hanya sebatas dalam upaya menjaga Hadis, sebagai sumber ilmu, sebagai kegiatan tafaqquh fi al-din, sebagai penjelas al-Qur’an, kadang juga tradisi sebelum munculnya kitab Syarah, hadis dijadikan sebagai penjelas dalam Kitab Tafsir al-Tabari, dll.
Syarah Era Klasik muncul, palingtidak dimulai dari  abad ke-6-12. hal itu momentum dengan kelahiran kitab-kitab syarah sesuai kitab induk. Terjadinya upaya pengembangan syarah dari kitab induk ke kitab hadis hasil ulama muta’akhkhirin, ex. Bulugh al-Maram dengan Subul al-Sala>m, dll. Adapun Syarah Era Kontemporer, dimulai dari abad ke-13 H. Lahirnya syarah koonatemporer juga bisa dikarekan adanya kemunduran dalam keinginan memahami suatu hadis sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan beberapa metode dan pendekatan syarah yang dipunyainya, pensyarahan hadis terus berkembangn sampai kemudian bermunculannya beberapa metode. Misalkan metode hermeneutik, yang diasumsikan juga turut mewarnai beragramnya metode pensyarahan, dipandang cukup memberikan solusi pembacaan yang cukup sesuai dengan problem masyarakat.
Kehadiran metode hermeneutik merupakan angin segar dalam penyarahan hadis. Penysarahan hadis yang ada dengan metode tajzi’i dan tahlil sekarang sudah tidak masanya lagi karena tidak mungkinnya dibahas secara keseluruhan suatu hadis seperti tartib suatu kitab dan masalah yang berkembang sekarang terlalu banyak dan membuat untuk menyegerakan penjabaran dan pembahasan dengan landasan yang ada.  Metode Hermeneutik dan dalam bingkai tematik agaknya mendesak dilakukan saat itu, seperti merespon kepemimpinan perempuan dalam ranah publik (presiden, dan sebagainya) yang terjadi pada tahun 1999. Kehadiran hermeneutik juga tidak terlepas dari pertumbuhan dan kemajuan pemikiran tentang bahasa dalam wacana filsafat dan keilmuan lain.
Dalam studi keislaman, hermeneutik sudah lama dikenal dan masuk dalam kajian tafsir dan lainnya. Padanan kata yang dapat dianggap sebagai hermeneutik adalah tafsir, ta’wil, syarh dan bayan. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari perkembangan keilmuan keislaman baik dalam bidang tafsir, fiqih, kalam maupun tasawuf.

Potret Syarah dalam Masing-Masing Kategorisasi
Sebagaimana diuraikan di atas, para ulama’ muhaddisin, sebetulnya telah banyak mencoba melakukan pensyarahan (memberikan pemahaman) terhadap hadis misalkan hal itu terdapati pada pensyarahan al-kutub al-sittah. Pensyarahan terhadap hadis yang terdapat dalam kitab Sahih al-Bukhari misalnya, telah muncul kira-kira 82 kitab syarah yang ditulis bahkan mungkin lebih dari itu. Di antaranya yang bisa dicermati adalah karya Syamsuddin Muhammad bin Yusuf bin Ali al-Kirmany, al-Kawa>kib al-Dira>ri fi Syarh Sahih al-Bukha>ri, atau karya Ibn Hajar al-Asqalany, Fath al-Ba>ri bi Syarh Sahi>h al-Bukha>ri, bahkan karya Imam Nawawi yang berjudul Syarh al-Bukha>ry atau karya Badruddin Mahmud bin Ahmad al-’Aini al-Hanafy yang berjudul ‘Umdah al-Qa>ry. Atau karya lain yang bisa disebut, misalkan, kitab-kitab syarh Muslim; Ikma>l al-Mu’allim fi Syarh Sahi>h Muslim, atau Kitab al-Mu’allim bi Fawa>’id Kita>b Muslim, dan Sahi>h Muslim bi Syarh al-Nawawi>.
Apa yang terlihat dalam metode pensyarahan hadis-hadis Nabi, bisa dikatakan hampir mempunyai kemiripan dengan metode penafsiran al-Qur’an. Para ulama’ yang telah mempersembahkan karya-karya mereka di bidang Syarh al-hadis, jika dicermati (metodologi pensyarahan) akan ditemukan metode seperti metode tahli>li>, ijma>li>, dan metode muqo>rin. Metode pensyarahan tahli>li> misalkan, akan ditemui di dalamnya uraian pemaparan segala aspek yang terkandung dalam hadis serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan kecenderungan dan keahlian pensyarahan. Misalkan diuraikannya sistematika hadis sesuai dengan urutan hadis yang terdapat dalam sebuah kitab hadis yang dikenal dari al-kutub al-sittah, kemudian dimulainya dengan penjelasan kalimat demi kalimat, hadis demi hadis secara berurutan.
Uraian pensyarahannyapun menyangkut aspek yang dikandung hadis seperti kosa kata, konotasi kalimatnya, latar belakang turunnya hadis, kaitannya dengan hadis lain, dan pendapat-pendapat yang beredar di sekitar pemahaman hadis tersebut baik yang berasal dari sahabat, tabi’in maupun para ulama’ hadis. Contoh dari kitab syarah yang menggunakan metode tahli>li> antara lain; Fath al-Ba>ri bi Syarh Sahi>h al-Bukha>ri karya Ibn Hajar al-Asqalani, Al-Kawa>kib al-Dira>ri fi Syarh Sahih al-Bukha>ri karya Syamsuddin Muhammad bin Yusuf bin Ali al-Kirmany, kitab Irsya>d al-Sa>ri> Li Syarh Sahi>h al-Bukha>ri> karya Ibn al-Abbas Syihab al-Din Ahmad bin Muhammad al-Qastalani, atau kitab Syarh al-Zarqa>ni> ala> Muwatta’ al-Ima>m Malik karya Muhammad bin Abd al-Baqi’ bin Yusuf al-Zarqani, dan lain-lain.
Adapun metode pensyarahan model ijma>li (global), hampir mempunyai kemiripan dengan model pensyarahan tahlili, namun mempunyai batasan perbedaan yang tipis dalam segi uraiannya. Dalam metode tahlili uraiannya sangat terperinci sehingga metode pensyarahannya lebih banyak dapat mengemukakan pendapat dan ide-idenya. Berbeda dengan metode syarah ijmali yang tidak memiliki ruang untuk mengemukakan pendapat dan ide-ide pensyarah. Karena itu, penjelasan yang sangat umum dan sangat ringkas merupakan syarah yang dimiliki metode ijmali. Namun tidak menutup kemungkinan uraian panjang lebar juga diberikan tatkala sebuah matan hadis tertentu membutuhkan penjelasan yang detail. Akan tetapi penjelasannya tidak seluas model pensyarah tahlili. Beberapa contoh kitab hadis yang menggunakan model ijmali adalah sebagai berikut;
Kitab ‘Aun al-Ma’bu>d Syarh Sunan Abi> Da>ud karya Muhammad bin Asyraf bin Ali Haidar al-Siddi>qi> al-Azi>m A>ba>di>. Kitab Qu>t al-Mughtazi Ala> Ja>mi al-Turmu>zi karya Jala>l al-Di>n al-Suyu>ti>. Atau kitab seperti Syarh al-Suyu>ti li Sunan al-Nasa’i karya Jala>l al-Di>n al-Suyu>ti. Syarah dengan menggunakan metode ijmali tersebut terkesan sangat mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang mudah, singkat dan padat sehingga pemahaman terhadap kosa kata yang terdapat dalam hadis lebih mudah didapatkan karena pensyarah langsung menjelaskan kata atau maksud hadis dengan tidak mengemukakan ide-ide atau pendapatnya secara pribadi. Berbeda dengan model tahlili>  yang sangat berpeluang mengemukakan ide-ide atau pendapatnya secara pribadi.
Adapun metode pensyarahan hadis yang menggunakan model syarah muqa>rin, sangatlah berbeda dengan kedua model di atas. Model syarah muqa>rin ini biasanya berupaya membandingkan hadis yang memiliki redaksi yang sama dan atau memiliki redaksi yang berbeda dalam kasus yang sama, dan kadang juga model ini berusaha membandingkan berbagai pendapat ulama’ syarah dalam mensyarah hadis.
Dengan demikian, model syarah muqa>rin mempunyai cakupan yangsangat luas, tidak hanya membandingkan hadis satu dengan yang lainnya, akan tetapi dibandingkan juga pensyarah lain dalam mensyarah suatu hadis. Salah satu kitab syarah yang menggunakan model syarah muqa>rin ini misalkan; kitab Sahi>h Muslim bi Syarh al-Nawawi> karya Imam Nawawi. Kitab lainnya yang mengunakan model syarah muqa>rin adalah kitab ‘Umdah al-Qa>ri> Syarh Sahi>h al-Bukha>ri> karya Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-Aini.
Model syarah muqa>rin ini, metodenya tidak terbatas pada perbandingan analisis redaksional an sich, melainkan juga mencakup pada perbandingan penilaian periwayat, kandungan makna dari masing-masing hadis yang diperbandingkan. Dalam memperbandingkan misalkan, pensyarah diidealkan mampu mengurai berbagai aspek yang menyebabkan timbulnya perbedaan tersebut, seperti latar belakang munculnya hadis (asba>b wuru>d al-hadi>s) yang memiliki ketidaksamaan dan lain-lain. Dipastikan akan dijelaskan di dalamnya mengapa hal itu (apapun) memiliki perbedaan, apa faktor dan sebab hal itu bisa berbeda dan yang lainnya. Diperlukan penelaahan yang seksama (dalam metode muqa>rin) oleh pensyarah terhadap berbagai pendapat yang dikemukakan oleh para pensyarah hadis sehubungan dengan pemahaman hadis yang sedang dibahas tersebut.
Syarah dengan menggunakan metode muqa>rin ini, memberikan nuansa kekayaan dalam pemahaman karena dapat menampung semua pendapat dari para ulama’ sesuai dengan kaidah-kaidah pemahamannya. Selain itu juga, bahwa peluang untuk selalu menghargai pendapat para ulama’ yang berbeda atau bahkan kontradiktif, bisa diterapkan dalam model metode syarah muqa>rin ini sehingga sikap toleran yang menyebabkan ketidak fanatikan terhadap suatu aliran atau pendapat tertentu bisa diterapkan. Begitu juga dalam model metode syarah muqa>rin ini, dapat menghindarkan dari pecahnya persatuan dan kesatuan karena didalamnya dijelaskan sekecil apapun yang menyebakan sebuah perbedaan terjadi. Meskipun demikian, model metode syarah muqa>rin ini terkesan sangat tidak cocok atau tidak relevan bagi pembaca tingkat pemula.
Berbagai metode syarah hadis di atas, tentu juga disertai dengan pendekatan memahami hadis Nabi. Hal itu karena dalam mengkaji hadis, tentu dibutuhkan adanya pemahaman dalam melihat status Nabi dan konteks sebuah hadis pada saat sebuah hadis disabdakan serta mengetahui bentuk-bentuk matan hadis. Ada beberapa pendekatan dalam memahami hadis Nabi, misalkan; pendekatan bahasa, historis, sosiologis, sosio-historis, antropologis dan psikologis atau bahkan pendekatan yang lainnya.
Secara kasuistik, kadangkala ditemukan sedikit fanatisme dalam pensyarahan hadis-hadis Nabi sebagai akibat dari syarah yang subyektif. Sikap subyektif ini hadir dari fanatisme madzhab yang sangat berlebihan dan hal ini dapat menimbulkan kekeliruan dalam syarah yang diberikan. Tentu apa yang akan dicari dalam model pensyarahan hadis seperti ini adalah mencari legitimasi hadis untuk melakukan pembenaran pemikiran dan tindakan sekaligus untuk meyakinkan para pengikut mereka bahwa ajaran yang mereka kembangkan adalah benar.
Kitab-kitab hadis yang berupaya disyarahkan misalnya kitab hadis karya Sahih Bukhari yang disyarahkan oleh Al-Asqala>ni> dengan kitabnya Fath al-Ba>ry, dan Irsya>d al-Sa>ri> oleh al-Qast}ala>ni> (923 H.), S}ah}i>h Imam Muslim disyarahkan oleh al-Nawawi dengan kitab al-Minhaj dan al-Zawawi dengan karyanya Ikma>l al-Ikmal (743 H.), Sunan Abu> Da>wu>d disyarahkan oleh al-Abadiy dengan Aun al-Ma’bud dan Syarah Zawa>id Abu> Da>wu>d oleh Ibn al-Mualaqqin (804 H.), al-Turmuzi  disyarahi oleh al-Suyuti dengan kitabnya Qut al-Mugtazi dan Syarah Zawa>id Jami’ al-Tirmizi,  Sunan al-Nasa’i oleh al-Suyuti dan al-Sindi dengan Syarah (ta’liq)-nya, Ibn Majah oleh al-Darimi (808 H.) dalam al-Diba>jah dan al-Suyuti dalam Miahbah al-Zuja>jah.
Fenomena ini berlanjut dengan klasifikasi yang dikemukakan  Nur al-Din ‘Itr dan Zubayr Siddiqi  di atas dengan memberikan syarah-syarah terhadap kitab-kitab yang menjadi trend pada saat itu. Di samping itu, juga memunculkan pembahasan  hadis-hadis dalam tema-tema tertentu, seperti kitab Subul al-Sala>m oleh al-S}an’aniy (1182 H.) dan  Nayl al-Aut}a>r oleh al-Syauka>ni< (1250 H.).
Umumnya, ulama memberikan tafsiran atas hadis-hadis hanya terfokus secara tajzi’i dalam konteks tahlili dan ijmali. Penjelasan yang dilakukan ulama hanya sebatas menguraikan makna kata-perkata dalam hadis yang terdapat dalam suatu kitab hadis dan kemudian menjelaskannya secara sekilas. Penjelasan yang dilakukan tidak saja terhadap materi hadis yang terdapat dalam matan (text) hadis melainkan juga terhadap masalah jalur periwayatan hadis.
Tradisi syarah dan memberi catatan kaki sering disebut dengan menta’liq. Kata menta’liq berasal dari kata ’allaqa – yu’alliqu – ta’liqan. Ta’li>q kadang juga dimaknai ha>syiyah, tahmi>syah, ta’li>qah. Banyak disertasi dan berbagai karya tulis yang mengkhususkan masalah ini terutama dalam berbagai kitab yang masih membutuhkan penelaahan secara serius. Kitab-kitab ini pada umumnya masih dalam bentuk manuskrip dan keberadannya masih perlu diteliti ulang dan diberi penjelasan. Biasanya ulama melakukan hal ini ditempatkan dalam  catatan kaki atau disamping kitab aslinya yang disebut dengan hawasi. Tradisi seperti ini dilakukan oleh al-Qadi Iyadh dalam al-Imla’-nya . Terkadang, ulama melakukannya dengan bentuk al-takhrij, yakni dengan membuat garis pemisah  antara yang tertulis dalam kitab dengan syarahnya.
Di samping dua bentuk penyuntingan di atas, juga ditemukan lima bentuk lain dalam tradisi ini, misalnya al-tashih.  Cara yang ditempuh adalah menuliskan lafal صح dalam di atas suatu kalimat atau di sampingnya. Atau dengan cara al-tadbib (al-tamrid),  atas hadis yang diangap sahih yang dianggap rusak lafal dan maknanya.
Apa yang dilakukan ulama terus berjalan kapan dan di mana mereka berada. Transmisi semacam ini memungkinkan berbagai karya hadis ditulis dalam berbagai bahasa. Hadis nabi yang tertulis dalam bahasa Arab diterjemahkan dalam bahasa mereka masing-masing sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada masanya. Secara umum mereka yang menulis kebanyakan adalah ulama yang pernah belajar ke Hijaz dan menetap di sana. Oleh karena itu, dalam khazanah ilmu keislaman di Indonesia tidak heran kalau banyak kitab-kitab hadis dan kitab-kitab lainnya yang ditemukan dalam bentuk bahasa Indonesia namun isinya mirip dengan berbagai karya ulama dahulu.
Kenyataan ini tidaklah dipungkiri, apa yang dilakukan bukanlah suatu yang pertama kali dilakukannya. Para pendahulu mereka sudah terbiasa melakukan kegiatan ini. Adanya beberapa kitab fiqih yang beredar di pesantren seperti kitab Fath al-Qarib ditemukan dalam bahasa Melayu dengan judul Mir’at al-Tullab. Demikian juga terhadap kitab lain seperti Muharrar oleh al-Syafi’iy kemudian diberi syarah menjadi kitab Minhaj al-T}a>libi>n oleh Imam Nawawi, kemudian disyarahi oleh al-Mahalli dengan terbitnya kitab Kanz al-Ragibi>n, Minhaj al-Tulla>b al-Ansari, Tuhfat al-Muhtaj oleh Ibn Hajar, al-Syarbini dengan kitab Mugni al-Mumtaj dan Nihayah al-Mumtaz oleh al-Ramli merupakan mata rantai panjang adanya tradisi syarah dalam kitab fiqih.  Demikian juga,  hal tersebut nampak dalam tradisi hadis. Di Sunda  terdapat banyak manuskrip yang ditulis oleh Kiyai Sanusi yang berisi hadis-hadis Nabi Muhammad saw.
Dalam perpustakaan nasional dan beberapa katalogus yang beredar banyak ditemukan kitab hadis yang ditemukan di Indonesia baik yang berbahasa Arab, Melayu, Jawa maupun Sunda. Keanekaragaman tersebut tentu didasarkan atas skriptorium di mana kitab itu ditulis dan tradisi mana yang mempengaruhinya.
Sampai di sini, jelaslah bagi kita bahwa kegiatan ulama dalam memberikan penjelasan, pensyarahan dan penafsiran atas hadis-hadis  nabi tidak terhenti hanya dalam penghimpunan dalam kitab-kitab tertentu saja, melainkan juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa sesuai dengan tempat dan waktu ulama yang menyalinnya. Tradisi ini diperkuat dengan adanya tempat pendidikan di Hijaz dan penyebaran melalui perdagangan di mana peran suadagar kaya sangat dominan dalam penulisan suatu karya tulis.
Diakui atau tidak khazanah keilmuan hadis dan bahkan yang lainnya dalam Islam berkembang dengan pesatnya. Hadis  bahkan masalah-masalah yang terkait dengan keilmuan keislaman sangat subur seiring dengan perkembangan kebutuhan umat manusia. Lihat Tabel berikut ini;

Tabel : 1

CIRI-CIRI METODOLOGI SYARAH HADIS
KLASIK & KONTEMPORER

KLASIK    KONTEMPORER
– Tema Sesuai Kitab Induknya.    – Tema Kontekstual
– Bentuk Utuh Sesuai Kitabnya    – Bentuk Tidak Utuh / per Tema
(Sesuai Kebutuhan)

– Metode: Tahlili, Ijma>l, Muqa>rin     – Metode : Tematik-Kontekstual

– Pendekatan : Bahasa, Historis.    – Pendekatan : Hermeneutik,
Fenomenologi
– Hasil : The Original Meaning    – Hasil : Applicable Meaning
– Paradigma : Posivistik / Post-
Posivistik    – Paradigma : Kritik-
Partisipatoris – Solutif
– Bayani, Burhani    – Irfani

– etc    – etc

Tabel : 2

METODE PENDEKATAN SYARAH HADIS KLASIK & KONTEMPORER

METODE    PENDEKATAN
-Tahlili
    bil ma’sur
    birra’yi    -Bahasa
-Ijmal    -Historis
-Muqarin    -Sosiologis
-Sosio-Historis
-Antropologis
-Psikologis

Tabel : 3

PRODUK KITAB SYARAH HADIS

METODE    KITAB

-Tahlili    1). Fath al-Ba>ri bi Syarh Sahi>h al-   Bukha>ri karya Ibn Hajar al-Asqalani.
2). Al-Kawa>kib al-Dira>ri fi Syarh Sahih al-Bukha>ri karya Syamsuddin Muhammad bin Yusuf bin Ali al-Kirmany.
3). Irsya>d al-Sa>ri> Li Syarh Sahi>h al-Bukha>ri> karya Ibn al-Abbas Syihab al-Din Ahmad bin Muhammad al-Qastalani.
4). Syarh al-Zarqa>ni> ala> Muwatta’ al-Ima>m Malik karya Muhammad bin Abd al-Baqi’ bin Yusuf al-Zarqani
5). Dll
-Ijmal    1). ‘Aun al-Ma’bu>d Syarh Sunan Abi> Da>ud karya Muhammad bin Asyraf bin Ali Haidar al-Siddi>qi> al-Azi>m A>ba>di>.
2). Qu>t al-Mughtazi Ala> Ja>mi al-Turmu>zi karya Jala>l al-Di>n al-Suyu>ti>.
3). Syarh al-Suyu>ti li Sunan al-Nasa’i karya Jala>l al-Di>n al-Suyu>ti.
4). Dll.
-Muqarin    1). Sahi>h Muslim bi Syarh al-Nawawi> karya Imam Nawawi.
2). ‘Umdah al-Qa>ri> Syarh Sahi>h al-Bukha>ri> karya Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad al-Aini.
3). Dll.

Dengan demikian, kegiatan ulama dalam memberikan penjelasan, pensyarahan dan penafsiran atas hadis-hadis nabi tidak terhenti hanya dalam penghimpunan dalam kitab-kitab tertentu saja, melainkan juga diterjemahkan dalam berbagai bahasa sesuai dengan tempat dan waktu ulama yang menyalinnya. Tentu upaya pensyarahan tersebut, juga dilandasi dengan pertanggung jawaban metode dan pendekatan yang dimilikinya. Karena itu pensyarahan terhadap kitab-kitab hadis, dengan demikian, mempunyai berbagai metode dan pendekatan yang cukup bervariasi. Tentu hal itu, bisa dianggap wajar ketika setting masyarakat Islam di sekitar zamannya juga cukup bervariasi.
Karena itulah, selain pensyarahan kitab-kitab hadis sangatlah tidak bebas nilai, tujuan dan maksud, setidaknya ada tiga trend pensyarahan hadis yang dilakukan ulama dari era klasik hinga kontemporer yang berupaya untuk: menjelaskan makna hadis ditinjau dari berbagai sudut, kecenderungan membahas secara luas dan memberi penjelasan berbagai kata yang sulit dipahami sebagaimana yang ada dalam kitab-kitab gari>b al-hadis & yang lainnya.

Stan , 15 Februari 2012

2 thoughts on “Metodologi Syarah Hadis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s